Type to search

Copywriting

Cara Menciptakan Konten Copywriting Storytelling yang Nendang dan Menjual

Cara membuat konten copywriting storytelling yang menjual

Storytelling dalam copywriting sudha banyak diterapkan oleh para internet marketer dalam mengemas konten mereka. Alasannya sederhana, jenis konten ini sangat mudah menghipnotis pembacanya!

Dan mungkin tanpa sadar, kita sendiri sudah dijejali dengan puluhan bahkan ratusan konten storytelling setiap harinya. Karena metode yang digunakan sangat smooth dan mengalir, meski sadar bahwa ujung- ujungnya kita dijejali dengan jualan, kita bisa lebih menerimanya.

Berbeda dengan konten hard selling yang lebih to the point, cenderung membuat kita skeptis atau segera klik skip saat merasa tidak senada dengan kebutuhan kita. Storytelling mengarahkan kita untuk mendengarkan dan menikmati alurnya lebih dulu.

Apa itu Copywriting Storytelling?

Dalam strategi marketing, ada banyak teknik copywriting yang digunakan untuk memaksimalkan sebuah konten penjualan. Salah satu yang populer karena daya magisnya adalah teknik storytelling.

Pengertian storytelling dalam copywriting ini sendiri adalah teknik penyampaian sebuah informasi dengan cerita yang menarik, mengalir, dan membangkitkan perasaan pembaca. Teknik ini membuat pembaca merasa terlibat secara emosional, dan mendorong mereka untuk mau mengenal lebih dalam atau melakukan tindakan lebih jauh.

Storytelling disebut sebagai pendekatan yang paling halus kepada audiens karena pembaca tidak dijejali informasi produk secara berlebihan. Misalnya saja manfaat produk dan hasil penggunaan yang dikemas secara hiperbola.

Sebaliknya, manfaat, edukasi dan fitur dikemas secara menarik dan mengalir. Tidak ada kesan memaksa di dalamnya.

Mengapa Menggunakan Teknik Storytelling?

Dari sekian banyak teknik marketing dan copywriting, mengapa menggunakan teknik story telling? Tentu karena ada banyak manfaat yang diperoleh.

Setidaknya ini lah beberapa alasan orang- orang menggunakan teknik story telling :

1. Teknik S3 Marketing Harvard

Pernahkah Anda merasa tertipu dengan sebuah konten di media sosial yang sangat menarik dan membuat penasaran, tapi ternyata ujungnya adalah menginformasikan sebuah produk?

Well, sebenarnya storytelling bukan berarti harus dengan teknik seperti itu. Namun, ini salah satu praktek yang umum digunakan dan mendapat label sebagai teknik S3 Marketing Harvard, hehehe….

Pembaca tentu tidak menduga kalau ending dari cerita yang mereka baca ternyata berujung pada promosi sebuah produk.

2. Iklan Tampil Beda

Untuk jenis cold audience, iklan hard selling kerap dianggap sebagai sesuatu yang tidak menarik. Mereka bahkan menolak untuk mengenal terlebih dulu. Ini tentu sangat disayangkan.

Sebaliknya, konsep bercerita dalam konten akan membawa nuansa yang berbeda. Pembaca tidak merasa seperti sedang disuguhkan iklan. Pendekatan ini membuat iklan tampil beda dan bisa menjangkau lebih banyak audiens.

3. Pendekatan Terbaik untuk Audiens

Konten storytelling dianggap mempunyai pendekatan terbaik karena membuat audiens lebih fokus. Dalam sebuah cerita yang bagus, perhatian audiens akan terfokus pada apa yang sedang diceritakan.

Selain itu, dengan angle yang menarik, jenis konten yang dibuat akan lebih menarik perhatian pembaca dibandingkan jenis promosi hard selling. Dengan begitu, konten ini akan menghasilkan tingkat interaksi yang tinggi.

Teknik Menciptakan Konten Storytelling

Setelah memahami apa itu konten story telling dan manfaatnya, Panda akan mengulas lebih lanjut teknik dalam membuat jenis konten yang satu ini. Dengan mengenal beberapa teknik ini, maka akan lebih mudah untuk kita menciptakan konten ini.

1. Teknik The Mountain

Teknik The Mountain digunakan saat Anda membuat konten yang panjang. Teknik ini biasanya dipakai dalam pembuatan skenario film, novel, atau cerpen.

Cerita diawali dengan pengenalan karakter, konflik, puncak konflik, dan diakhiri dengan solusi. Teknik ini cocok jika Anda memperkenalkan produk baru.

Dalam copywriting produk, teknik ini bisa diterapkan saat Anda membuat konten di media sosial, seperti Facebook dan Instagram. Dalam caption yang sedikit panjang, atau konten visual storytelling (cerita bergambar), ini akan menjadi konten yang unik dan menarik perhatian pembaca.

2. Teknik False Start

Teknik false start diawali dengan menceritakan pengalaman yang kurang menyenangkan tentang kesalahan- kesalahan seseorang. Dari cerita awal tersebut, cerita akan dilanjutkan dengan menunjukkan cara memperbaiki kesalahan.

Teknik ini sangat baik untuk mencoba mengubah perspektif audiens tentang produk tertentu. Contohnya adalah produk yang awalnya kurang baik, padahal sebenarnya bermanfaat, berkualitas dan dibutuhkan.

3. Teknik Monomyth

Teknik yang satu ini dipopulerkan oleh Joseph Campbell dengan menekankan pada hero’s journey alias perjalanan seorang pahlawan. Ia menggambarkan tentang perjalanan sulit seorang pahlawan hingga sukses mencapai tujuannya.

Teknik dalam membangun cerita ini adalah dengan menciptakan konten- konten yang menginspirasi pembaca tentang sebuah perjuangan seseorang hingga meraih happy ending.

4. Teknik Sparklines

Teknik Sparklines menjadi populer sejak dipakai Steve Jobs saat memperkenalkan iPhone pada 2007. Teknik ini menceritakan perbedaan yang terjadi sekarang dengan harapan yang diinginkan, serta langkah apa yang perlu dilakukan.

Saat dikemas dengan seksama, teknik ini akan sangat efektif dalam mempengaruhi perasaan audiens sehingga mau mengikuti solusi yang diberikan.

Tips Menciptakan Konten Story Telling yang Menjual

Dari keempat teknik tersebut, Anda bisa menggunakan berbagai angle cerita tersendiri. Berikut ini adalah beberapa tips bercerita yang bisa Anda gunakan :

1. Menanyakan Sesuatu

Jika sedang minim ide, melempar pertanyaan ke audiens bisa mengembangkan angle cerita baru. Misalnya saja saat berjualan hijab atau produk fashion, kita bisa mulai menanyakan warna kesukaan atau style yang membuat nyaman.

Contohnya bisa seperti ini (dilengkapi dengan gambar yang eye catching)

Contoh copywriting hijab

Lebih suka digodain warna tosca apa dusty nih?

Dua warna cantik ini memang lagi ngehits. Kemarin baru launching 1000 pcs, ehhh langsung ludes nggak sampai seminggu. Mana belum sempat ngiklan lagi >.<

Kira- kira kalau Raisa mau restock dua warna ini lagi, kamu lebih suka dalam model pashmina apa hijab segitiga? Apa mau nya dua- duanya?
Hehehe….

Tapi
restock nya juga nggak banyak- banyak sih rencananya. Kalau kamu nggak mau kehabisan atau takut harus nunggu PO kloter kedua yang entah kapan dibuka lagi, cuss langsung kontak admin kita ya 🙂

2. Cerita Tentang Orang Lain

Cerita tentang orang lain juga bisa menjadi ide menarik untuk konsep copy storytelling. Entah itu tentang kepribadian orang tersebut, cerita sedih, atau cerita inspiratif.

Contohnya bisa seperti ini (gambar nya bisa random, atau yang memancing rasa penasaran) :

Bapak kos gue itu orangnya nyentrik banget. Setiap hari ada aja hal aneh yang dilakuin atau omongan lucu yang bikin kita geli dan geleng- geleng kepala.

Contohnya pas kemarin nih. Udah tau musim hujan dan prediksi bakal hujan deres kayak kemarin, disuruh bawa jas hujan, susah bener. Kalau kata si Ibu kos, si bapak ini sok- sok an kebal sama hujan. Katanya laki itu nggak takut hujan, apalagi cuma hujan aer. Dan bener dong, malemnya langsung masuk angin,
hahahaha

Anak- anak kos itu penasaran kenapa si bapak nggak mau bawa jas hujan. Ternyata pas kita tanyain, dia males pake jas hujan gara- gara jas hujannya bikin dia kayak kelelawar, nggak kece,
wkwkwk

Nggak tau dia kalau udah ada jas hujan terpisah celana dan baju yang enak banget dipake kayak punya gue. Terus keliatan simpel juga, dan aman buat pengemudi motor karena nggak bakal nyangkut di kendaraan.

Pas tau gini, si bapak kos langsung deh gue tunjukin toko jas hujan Felix Store. Cuss langsung order nggak pake lama karena kualitasnya udah kebukti.

3. Pengalaman Pribadi

Punya pengalaman pribadi atau ngaku- ngaku itu pengalaman pribadi? Dua- duanya bisa menjadi konten marketing yang menarik perhatian calon pembeli.

Contohnya begini :

Semalem berasa diingetin dan ditampar keras- keras. Gara- garanya pas ketemu temen lama gue ngeluh kalau bisnis lagi carut marut dan gue bilang ke temen kalau memang rata- rata bisnis lagi down.

Kata temen gue, omongan gue itu justru jadi
excuse yang bikin gue punya seribu alasan buat nggak memperbaiki keadaan. Bener juga sih!

Terus akhirnya dia suruh gue baca buku “The Outward Mindset”. Dan baru sampe di halaman sepuluh, gue berasa ketampar banget! Ternyata salah satu alasan gue nggak maju- maju, ya diri gue sendiri.
Damn, malu banget!

Buku ini gila banget sih bagusnya. Kalau mau ikut ketampar juga kayak Saya, bisa order disini langsung : ….. 

4. Opini

Pendapat tentang sebuah topik juga bisa menjadi awalan cerita yang menarik. Saat kita punya opini tentang sesuatu yang lagi hits, yuk jadiin konten marketing. Tapi berhati- hatilah jika ini berkaitan dengan politik atau isu- isu sensitif di masyarakat ya.

Contohnya seperti ini (misalnya saat ngehits isu acara reality show Masterchef adalah settingan) :

Bikin konten storytelling yang sedang hits dengan topik Masterchef Sesion 5

Masterchef settingan?

Gue sih udah tau dari dulu! Paling kerasa banget pas si Anu tiba- tiba masuk ke Pressure Test, padahal ada yang masakannya lebih ancur dari dia! Gokil banget sih menurut gue!

Kalau mau yang gokil, tapi nggak settingan sih mending langsung ke instagram @tolelelele. Promo nambah nasi nya sepuasnya asli nggak pake setting menyeting. Cuss ah nggak pake lama :v


(Disclaimer : ini bukan berarti tim Penulis Panda percaya dengan isu Masterchef settingan ya, ini hanya contoh konten semata 😀
Dalam beberapa kesempatan, salah satu juri Masterchef, Chef Arnold menyatakan kalau Masterchef ‘memang settingan’, karena kalau nggak disetting (staff teknis, flow acara,dsb), ya nggak bakal jadi acara yang layak untuk ditampilkan di publik.)

5. Permainan Emosi

Permainan emosi seperti cerita mengharukan atau menginspirasi juga bisa menjadi cerita menarik untuk konten marketing. Yang perlu diperhatikan, jangan sampai terseret ke jenis konten hoax murahan yang dulu sempat ngehits di media sosial (Tau kan konten bernada minta Amin kan? hehehe…)

Contohnya seperti ini :

Pengen nangis sejadi- jadinya >.<

Bukannya lebay sih, tapi beneran sedih udah nungguin jam open PO nya, eh masih nggak kebagian juga gara- gara sistem cepet- cepetan. Perasaan udah berusaha cepet juga, udah siapin dua HP juga buat checkout!

Semoga aja di open PO minggu depan tetep kebagian slot. Gue tungguin banget 10 Oktober nanti. Bakal nangis banget kalau sampai kehabisan lagi 🙁

Sampai disini sudah cukup mendapat ide?

Ide lain yang bisa digunakan antara lain :

  • Kejadian di sekitar
  • Membicarakan masalah

Kesimpulan

Selain dari sisi eksekusi konsep, yang perlu diperhatikan adalah split test dari angle cerita berbeda untuk bisa dianalisa. Dalam beberapa kali percobaan, Anda akan bisa menilai angle mana yang paling efektif dalam menghasilkan engagement dan penjualan.

Sebagai penutup dari artikel ini, Panda akan menampilkan resume FAQ yang sering muncul berkaitan dengan topik Storytelling :

Apa itu storytelling dalam copywriting?
Artikel Menarik Lainnya :   Membuat 8 Headline Copywriting yang Paling Menjual di Dunia

Storytelling dalam copywriting yaitu teknik penyampaian sebuah informasi dengan cerita yang menarik, mengalir, dan membangkitkan perasaan pembaca.

Kenapa sih teknik storytelling sangat populer? Apa manfaat konten story telling?

Konten story telling mempunyai pendekatan terbaik kepada audiens melalui cerita yang membangkitan perasaan. Berbeda dengan konten yang terang- terangan hard selling, story telling akan lebih mudah mengarahkan audiens untuk menerima informasi produk, dan bahkan mengarahkan mereka hingga melakukan tindakan tertentu.

Ada banyak manfaat lain dari konten story telling yang dikupas lebih lanjut di artikel ini.

Bagaimana cara membuat konten story telling yang menjual?

Ada beberapa teknik dan tips dalam membuat konten story telling untuk tujuan marketing. Dari sisi teknik, setidaknya ada 4 teknik yang dapat Anda gunakan. Sedangkan untuk tips, ada 5 tips dengan contoh langsung yang bisa Anda contek habis dari artikel PandaGila.com yang satu ini.

Artikel Menarik Lainnya :   Toko Online: Cara Membuat Sales Letter yang Meledakkan Penjualan
Mas Panda

Berkecimpung di niche Blogging & Digital Marketing lebih dari 5 tahun. Pernah menjadi salah satu bagian dari Digital Marketing Agency terbesar di Jawa Tengah. Sedang dan terus belajar dalam Digital Marketing.

  • 1
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x