Apa Itu DNS? Pengertian, Cara Kerja, dan Cara Setting DNS

Apa Itu DNS? Pengertian, Cara Kerja, dan Cara Setting DNS

DNS atau Domain Name System merupakan bagian integral dari sebuah website. Dengan kehadiran DNS ini lah, pengunjung bisa leluasa mengunjungi sebuah laman web dengan mudah dan cepat.

Pasalnya jika tidak, pengguna harus menggunakan alamat IP website seperti 179.28.11.123 untuk mengakses sebuah website. Alamat website yang berbeda juga akan punya alamat IP yang berbeda. Tentu sangat merepotkan, bukan?

Tapi berkat kehadiran DNS, mengakses sebuah laman website menjadi sangat mudah! Kita tinggal mengetik alamat website seperti google.com atau pandagila.com dan …. Halaman website akan terbuka sesuai harapan.

Apa itu DNS?

Pengertian dari DNS adalah sistem yang menghubungkan alamat IP dengan nama domain yang mudah manusia ingat. DNS sendiri merupakan kepanjangan dari Domain Name System atau Sistem Nama Domain.

Pada awalnya, saatnya sistem ini belum ditemukan, pengguna perlu mengetikkan alamat IP untuk mengakses website. Cara ini tentu merepotkan karena tidak mudah untuk mengingat alamat IP atau kita perlu mempunyai daftar lengkap IP Address untuk berkunjung ke sebuah laman.

Namun dengan kehadiran sistem nama domain ini, kita kini tinggal mengingat nama domain dan mengetiknya ke address bar browser. DNS kemudian akan menerjemahkan domain tersebut ke IP Address dan menghubungkannya untuk menghadirkan situs web tujuan.

Misalnya untuk mengakses Google, sobat Panda tidak perlu menulis 172.217.0.142, melainkan cukup mengetik alamat domain google.com ke address bar.

Fungsi dan Manfaat DNS

Fungsi utama dari DNS adalah menerjemahkan nama domain menjadi alamat IP, yang memungkinkan perangkat untuk saling berkomunikasi di internet. Sederhananya, setidaknya ada tiga fungsi dari DNS :

  • Meminta informasi IP Address sebuah website berdasarkan nama domain.
  • Meminta informasi URL website berdasarkan IP Address yang pengguna akses.
  • Mencari server yang tepat untuk mengirimkan email.

Sedangkan manfaat DNS antara lain :

  • Memudahkan pengguna dalam mengakses situs web melalui nama domain yang mudah pengguna ingat.
  • Memungkinkan pengguna untuk mengelola alamat IP yang kompleks lewat nama domain yang lebih sederhana.
  • Mengidentifikasi alamat komputer di sebuah jaringan.
  • Mentranskripsikan hostname menjadi alamat IP dan sebaliknya.
  • Memfasilitasi proses pengiriman dan penerimaan email.
  • Mendistribusikan trafik secara merata di antara beberapa server dengan alamat IP yang sama.
  • Mengalihkan lalu lintas (redirection) pengguna dari lokasi tertentu ke server terdekat.

Mengenal Bagian- Bagian DNS

Apa itu Propagasi Domain dan Cara Mempercepat Propagasi Domain

DNS bekerja dengan cara mencocokkan nama komponen URL dengan komponen IP Address. Setiap URL dan IP Address masing- masing punya bagian yang terhubung satu sama lain. Bagian terpenting dari proses tersebut adalah DNS Server.

Analoginya saat kita berada di perpustakaan dan mencari buku berdasarkan kode yang menjelaskan tata letak buku tersebut. Kode buku perpustakaan yang disebut dengan DDS (Dewey Decimal System) terdiri dari kode buku, kode nama belakang penulis, dan kode tahun penerbitan buku.

Prinsip ini mirip dengan DNS. Namun, bagian dari buku ini disesuaikan dengan bagian- bagian URL yang menjadi susunan hierarki DNS. Setiap kode juga menjelaskan tentang bagian- bagian domain.

Lantas apa saja bagian- bagian dari Domain Name System ini? Berikut informasinya :

1. Recursive Resolver

Recursive Resolver merupakan perangkat atau server yang berfungsi mencari informasi alamat IP melalui DNS. Jika informasi ini tidak ditemukan di cache server, sistem akan melakukan pencarian melalui cache ISP.

2. Root Server

Root server merupakan database yang bisa menjawab deretan pertanyaan terkait nama domain dan alamat IP. Bagian DNS ini sendiri tidak punya semua informasi terkait hostname dan alamat IP. Kendati begitu, server ini bisa mengarahkan permintaan ke pihak lain yang mempunyai info tersebut.

Hingga kini ada 13 root server yang ada di dunia. Root server ini diurutkan secara alfabet dan dikelola oleh organisasi seperti ICANN, Verisign, Internet System Consortium, dan The US Army Research Lab.

3. Top-Level Domain (TLD) Name Server

TLD name server adalah server yang mengelola informasi untuk domain berekstensi TLD, seperti .com, .org, .co, dan lainnya. Dari root server, sistem akan menggunakan TLD untuk mendapatkan jenis informasi yang ingin pengguna cari.

4. Authoritative Name Server

Authoritative Name Server merupakan server yang mengelola informasi spesifik tentang domain tujuan. Jika informasi sudah sesuai, browser akan menampilkan halaman yang pengguna minta.

Untuk memastikan hasil yang relevan dan up-to-date, proses ini akan terjadi secara berulang dan berkelanjutan. Beberapa informasi juga akan disimpan dalam bentuk cache agar proses query berjalan lebih cepat.

Jenis- jenis DNS Record

DNS Record merupakan sebuah instruksi yang dibuat dan disimpan di server DNS. Instruksi ini sering juga kita sebut dengan Zone File dan menjadi catatan penting yang berkaitan dengan domain dan nama host.

Selain itu, DNS Record juga membantu server DNS untuk mengarahkan query ke tempat tujuan. Berikut beberapa jenis DNS Record yang umum kita jumpai beserta fungsinya :

  • A Record (Address Record) : Menyimpan informasi terkait hostname, time to live (TTL) dan IPv4 Address.
  • AAA Record (Quad A) : Menyimpan informasi hostname dan hubungannya dengan IPv6 Address.
  • CNAME Record : Canonical Name atau Alias yang merujuk ke domain atau subdomain lain, tapi tidak ke alamat IP. CName ini berguna untuk melakukan redirect domain atau subdomain ke sebuah IP Address.
  • ANAME : Record yang berguna untuk menunjukkan root level domain ke hostname atau FQDN.
  • MX Record : Merekam server SMTP yang mengelola proses saling berkirim email di suatu domain.
  • NS Record : Merujuk subdomain pada Authoritative Nameserver yang pengguna inginkan. Record ini berfungsi saat subdomain Anda mempunyai hosting web berbeda dengan domain.
  • PTR Record : Memberikan izin pada DNS Resolver untuk menyediakan informasi terkait IP Address dan menampilkan hostname (Reverse DNS Lookup).
  • CERT Record : Menyimpan sertifikat enkripsi (sertifikat keamanan pada SSL/TLS).
  • SRV Record : Menyimpan informasi terkait lokasi komunikasi, seperti Priority, Mame, Weight, Points, Port, dan  TTL.
  • TXT Record : Membawa dan mendistribusikan data yang hanya dibaca oleh mesin.
  • SOA Record : Merupakan bagian yang muncul di awal dokumen DNS zone. Bagian ini merujuk pada Authoritative Name Server serta informasi lengkap sebuah domain.

Cara Kerja DNS

Setelah mengetahui tentang apa itu DNS, bagian dan jenis- jenisnya, penting juga untuk mengetahui bagaimana cara kerja DNS. Proses kerja Domain Name System sendiri melibatkan beberapa tahapan, antara lain sebagai berikut :

  1. Pencarian di Caching DNS
    Sebelum melakukan pencarian lebih lanjut, caching DNS akan berupaya mencari data di cache lokal terlebih dahulu.
  2. Proses di Recursive DNS
    Jika tidak menemukan data di cache, Recursive DNS akan melakukan pencarian data dari awal.
  3. Pencarian di Authoritative Name Server
    Dalam prosesnya, Recursive DNS akan menghubungi authoritative name server yang punya informasi lengkap tentang domain.
  4. Pengembalian Jawaban
    Setelah menemukan informasi yang pengguna butuhkan, informasi ini akan diteruskan kembali ke Resolver dan Pengguna.

Cara Setting DNS Domain

Siap mempraktekkan cara setting DNS Domain? Anda bisa melakukannya lewat fitur Zone Editor di cPanel.

Berikut adalah langkah- langkah yang perlu Anda lakukan untuk setting DNS : 

  • Login ke cPanel.
  • Cari bagian Domains, lalu pilih Zone Editor.
  • Pilih Domain, dan klik Manage.
  • Tambahkan DNS Record sesuai kebutuhan (A, AAAA, CAA, CNAME, MX, SRV, atau TXT)
  • Simpan Record.

Setelah record tersimpan, Anda perlu menunggu waktu propagasi DNS dalam 1×24 jam. Setelah propagasi selesai, artinya setting DNS telah selesai.

Kesimpulan

DNS merupakan bagian penting dari struktur internet yang memungkinkan pengguna mengakses situs dan layanan online dengan nama domain yang mudah diingat. Berkat Domain Name System, Anda tidak perlu lagi mengingat alamat website dalam format angka ala IP Address. Cukup dengan menuliskan nama domain, maka DNS akan menerjemahkannya ke alamat IP Tujuan Anda.

Dengan memahami hal ini, pastinya kita mengerti ada kompleksitas di belakang layar dari mudahnya kita mengakses sebuah laman web saat ini.

Cara Mudah Menghubungkan Domain dan Server Hosting

Cara Mudah Menghubungkan Domain dan Server Hosting

Menghubungkan domain ke server hosting adalah langkah selanjutnya yang kita lakukan setelah berhasil membeli domain. Langkah ini disebut sebagai pengaturan domain di DNS atau konfigurasi DNS (Domain Name Server).

Ada kalanya webmaster membeli domain dan hosting di tempat yang berbeda- beda. Tidak masalah, karena penyatuan keduanya tetap mudah dilakukan melalui name server.

Nah di artikel kali ini, Panda akan secara khusus membahas tentang cara mengkaitkan nama domain ke server hosting. Mari kita simak lebih lanjut!

Persyaratan Menghubungkan Domain ke Hosting

Sebelum kita mulai langkah- langkahnya, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui dan perhatikan lebih dulu. Hal tersebut, yaitu :

1. Sudah Mempunyai Nama Domain

Pastikan nama domain Anda sudah siap. Biasanya orang berburu artikel cara menghubungkan domain dan hosting setelah mereka selesai membeli domain. Tujuannya tentu, mengaitkan keduanya agar website bisa live.

2. Sudah Mempunyai Akun Web Hosting

Web Hosting adalah sebuah tempat dimana semua file dan data website tersimpan, bisa diakses dan dikelola melalui jaringan internet. File dan data website ini meliputi script, aplikasi, database, gambar, email, dan video.

Hosting nantinya akan menampung file- file website yang akan diakses melalui nama domain tadi. Tentunya, Anda harus memastikan sudah melakukan konfigurasi yang tepat agar keduanya dapat terhubung.

Hosting kita gunakan dengan sistem sewa, yaitu membayar ke perusahaan provider hosting. Ada banyak jenis- jenis hosting yang bisa menjadi pilihan kita. Baik itu hosting terbaik Indonesia, maupun luar negeri.

Cara Mengarahkan Domain ke Nameserver Hosting

Menghubungkan domain ke server hosting memang hal teknis. Namun percayalah, hal ini cukup mudah dilakukan. Secara garis besar, step nya pun hanya terbagi ke dalam dua, yaitu :

  • Mengubah DNS (Domain Name Server) di domain untuk mengarah ke web hosting.
  • Menyiapkan web hosting untuk menjadi ‘rumah’ bagi domain Anda.

Simak lebih detailnya berikut ini ya :

A. Mencari Tahu Nameserver Hosting Web

Sebelum mengarahkan nama domain, langkah pertama adalah sudah mengetahui nameserver yang digunakan web hosting. Cara termudah untuk mendapatkan informasi ini adalah di email yang hosting kirimkan saat pertama kali mendaftar.

Cara mudah kedua untuk menemukan nameserver adalah dengan mengakses Client Area dari web hosting. Di pengaturan hosting Hawkhost.com misalnya, Anda bisa mengintip server nama domain di bagian Client Area > My Products & Services > Product Details.
Informasi Nameserver di Client Area Hosting

Jika kesulitan untuk menemukannya, Anda juga bisa meminta bantuan layanan hosting untuk mendapatkan informasi.

Simpan dan catat lebih dulu data nameserver ini. Anda perlu untuk menyalinnya di konfigurasi DNS nanti.

B. Mengubah DNS/ Name Server di Domain agar Mengarah ke Web Hosting

Setelah mempunyai domain, Anda bisa masuk ke website penyedia nama domain untuk melihat informasi domain Anda. Disini Anda akan mencari fitur untuk mengatur atau mengubah nameserver domain Anda.

Pada umumnya setiap domain bisa mempunyai peletakan menu yang berbeda- beda ya. Artinya, di provider yang Anda gunakan, bisa jadi mempunyai tampilan yang berbeda dari contoh gambar yang menjadi referensi Panda ini.

Untuk contoh ini Panda menggunakan penyedia domain Name.com.

Tujuan dari langkah ini sendiri adalah untuk memberi tahu domain agar mengarah ke layanan web hosting yang Anda gunakan. Sederhananya, mengubah DNS atau Name Server (NS) dari domain agar saat orang- orang mengakses domain, mereka bisa mengakses data informasi di server hosting.

Selanjutnya, ikuti langkah- langkah berikut ini :

  1. Masuk ke bagian Domain Saya atau Domain Manager.
    Menu MyDomain di Name.com
  2. Pilih domain yang akan Anda ubah pengaturan name server nya. Bisa langsung klik di nama domain atau centang di kotak nama domain, dan tap Manage/ Atur.
  3. Di menu Domain, temukan sub menu Nameserver, dan klik ‘Manage Nameserver’ 
    Domain detail untuk manage nameserver domain
  4. Edit nameserver dan update sesuai name server di penyedia layanan hosting
    Update nameserver untuk menghubungkan domain ke server hosting
  5. Pilih Update atau Simpan.

C. Konfigurasi Hosting untuk Domain Kedua di Website (Add-On Domain)

Jika domain yang Anda setting ini adalah domain kedua, alias bukan domain utama, maka membutuhkan konfigurasi tambahan di layanan web hosting. Addon Domain ini sendieir artinya adalah domain baru yang ditambahkan ke hosting dan mempunyai Uniform Resource Locator (URL) yang berbeda dari domain utama.

Konsep dari Addon Domain ini sendiri adalah menghadirkan multiple domain atau website di dalam akun web hosting yang sama. Penggunaan resource (space dan bandwidth) dari domain addon akan berbagi dengan domain utama.

Berikut adalah langkah lanjutan jika Anda mengarahkan addon domain ke hosting :

  • Login ke cPanel web hosting dengan akun Anda.
  • Setelah berhasil login, cari sub menu Addon Domain di bawah menu Domain, atau Ctrl+F dan ketik Addon Domain
    Menu Addon Domain di cPanel
  • Isi nama domain yang akan Anda hubungkan ke hosting, dan untuk document root, bisa diisi dengan /public_html/namadomainbaru. WARNING, jangan sampai hanya mengisi /public_html ya, karena ini akan menimpa data domain utama Anda.
    Konfigurasi domain di Addon Domain
  • Setelah semua field terisi, tap Add Domain.

Setelah berhasil menambahkan addon domain, Anda akan melihat domain ini berada di daftar Addon Domain seperti di gambar berikut :

Penambahan Addon Domain Berhasil

Selesai! Cukup mudah, bukan?

Propagasi Domain Membutuhkan Waktu

Sudah berhasil mengarahkan nameserver sesuai dengan informasi di hosting, kok website masih belum bisa live? Sabar, jangan panik. Propagasi domain memang membutuhkan waktu.

Propagasi domain artinya waktu yang domain butuhkan untuk tersambung dengan server hosting setelah proses konfigurasi tadi. Secara default, propagasi domain memakan waktu 1×24 jam atau 1×48 jam.

Kendati begitu, di beberapa provider domain dan hosting, proses ini bisa dalam hitungan kurang dari 6 jam.

Kesimpulan

Meskipun mengarahkan domain ke server web hosting ini terbilang tutorial teknis, tapi sebenarnya cukup mudah untuk kita praktekkan. Kuncinya hanya dua, sudah mempunyai data nameserver hosting, dan melakukan konfigurasi nameserver di penyedia domain.

Nameserver di hosting ini pun relatif sangat mudah ditemukan. Jika tidak mendapatkan informasi ini di email, Anda bisa mengaksesnya dari panel hosting atau Client Area. Namun jika masih tidak menemukannya (ini sangat jarang terjadi), Anda bisa meminta bantuan customer service dari provider hosting Anda.

Jika konfigurasi domain ini adalah untuk domain kedua dan seterusnya, alias addon domain, untuk di satu hosting, pastikan Anda mengikuti step C di tutorial di atas. Setelah itu, Anda tinggal menunggu proses propagasi domain selesai, dan taraaaa…. website Anda sudah live dan siap untuk dikelola lebih lanjut.

Semoga tutorial Panda kali ini tentang cara menghubungkan nama domain ke server hosting bermanfaat. Selamat mencoba ya, genks! 🙂

Apa itu Propagasi Domain dan Cara Mempercepat Proses Propagasi DNS

Apa itu Propagasi Domain dan Cara Mempercepat Proses Propagasi DNS

Propagasi Domain/ DNS merupakan salah satu proses yang terjadi saat Anda menghubungkan domain ke hosting. Jika ini adalah pengalaman pertama, mungkin Anda bingung saat hosting sudah aktif dan domain sudah terdaftar, tapi tidak bisa terhubung.

Jangan panik. Ini normal terjadi karena propagasi DNS.

Nah, di artikel ini, Panda akan mengulas secara lengkap tentang pengertian propagasi domain, cara mengecek, dan cara mempercepat proses propagasi. Dengan begitu, domain bisa segera live dan diakses oleh banyak orang.

Apa itu Propagasi Domain?

Pengertian dari Propagasi Domain/ DNS adalah waktu yang dibutuhkan untuk menghubungkan sebuah domain ke server hosting. Langkah ini diperlukan untuk menyamakan informasi DNS ke semua server yang tersebar di sejumlah lokasi. Melalui proses penghubungan ini, nantinya domain dapat berfungsi dengan benar dan stabil.

Selama proses propagasi berlangsung, pemilik website dan pengunjung tidak akan bisa mengakses website tersebut. Bahkan saat website merupakan migrasi dari server lain, akses menuju website juga belum bisa dilakukan sampai proses propagasi selesai.

Berapa Lama Propagasi Domain/ DNS Berlangsung?

Lama waktu yang diperlukan untuk propagasi ini bisa sangat bervariasi. Mulai dari hitungan menit, jam, hingga hari.

Pada umumnya, propagasi domain berlangsung 1*24 jam. Tapi ada juga yang mencapai 1*48 jam. Cepat lambatnya proses ini bisa terjadi karena beberapa faktor yang akan kita bahas di segmen selanjutnya di bawah 🙂

Apa Saja yang Mempengaruhi Lama Proses Propagasi DNS?

Ada beberapa hal yang mempengaruhi cepat lambatnya waktu propagasi. Hal ini antara lain : 

1. ISP (Internet Service Provider)

Lama propagasi DNS bisa terjadi karena faktor provider internet. Pasalnya, ISP harus memperbarui DNS mereka saat Anda mengakses server hosting yang baru.

Kendalanya, ISP kadang menggunakan cache memori yang besar. Hal ini menyebabkan proses refresh jaringan internet atau update DNS menjadi sangat lama dan berimbas ke propagasi DNS menjadi ikut lama.

2. Perubahan DNS Cache

Pada propagasi DNS, seluruh DNS perlu memperbarui informasi domain baru. Biasanya informasi domain ini tersimpan dalam cache.

Cache DNS mempermudah pencarian domain agar saat pengunjung mengakses sebuah website, informasi domain sudah tersedia dalam cache. Saat ada domain yang mengarah ke IP address baru, maka DNS cache harus turut memperbarui informasi dengan alamat baru.

Inilah yang membuat propagasi domain membutuhkan waktu yang lebih lama.

3. Perubahan Informasi WHOIS

WHOIS merupakan tool yang memuat identitas pemilik domain, seperti nama, alamat no telepon, administratif, email dan kontak teknis lainnya.

Saat baru membeli domain, Whois akan mengupdate informasi pemilik domain ke dalam database yang mereka miliki. Hal ini juga turut mempengaruhi lama propagasi berlangsung.

4. Registrar Domain

Domain Registrar adalah perusahaan yang mengelola pemesanan nama domain internet. Nah, registrar juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya propagasi dns.

Domain- domain yang bersifat internasional atau TLD (Top Level Domain) seperti .COM, .NET, atau .ORG, cenderung mempunyai proses propagasi yang lebih cepat. Sedangkan domain lokal atau ccTLD propagasinya cenderung lebih lambat.

Cara Cek Propagasi DNS

Alih- alih hanya menunggu, sebenarnya kita juga bisa cek status propagasi DNS. Bagaimana caranya?

Berikut adalah beberapa cara untuk cek propagasi DNS :

1. Menggunakan Alat Propagasi DNS

Ada beberapa alat yang bisa membantu pengecekan propagasi DNS, seperti DNSChecker atau ViewDNS.

Misalnya kita akan menggunakan DNS Checker untuk cek propagasi domain, berikut adalah langkah- langkahnya :

  1. Buka situs https://dnschecker.org/ 
  2. Masukkan alamat domain di kolom DNS Check, lalu tab ‘Search’
  3. Hasil status checking DNS Propagasi akan terlihat seperti berikut ini :
DNS Checker untuk Mempercepat Proses Propagasi Domain

Anda bisa melihat daftar lokasi server domain Anda di seluruh dunia, lookup result dan status propagasi domain. Jika sudah centang semua, artinya proses propagasi domain berhasil dan selesai.

2. Menggunakan Command Prompt

Cara selanjutnya cek propagasi DNS adalah menggunakan command prompt. Berikut langkah- langkahnya :

  1. Login ke cPanel terlebih dulu untuk mengetahui IP hosting. Anda bisa mengakses cPanel dengan login ke client area hosting atau langsung ke link cPanel website.
  2. Informasi tentang IP hosting biasanya tersedia di area sebelah kanan dashboard cPanel.
    Cek IP Address Hosting
  3. Simpan informasi tentang IP tadi.
  4. Klik tombol Windows+R, lalu ketik ‘cmd’ untuk membuka aplikasi command prompt atau cmd.
  5. Ketik ‘ping namadomain.com’, lalu Enter.

Jika IP dari respon tersebut sama seperti IP hosting di cPanel artinya domain telah terdaftar dengan benar.

Cara Mempercepat Propagasi Domain/ DNS

Jika Anda merasa propagasi domain tak kunjung selesai, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mencoba mempercepat proses propagasi DNS. Berikut adalah langkah- langkahnya :

1. Refresh Browser

Cara pertama untuk mempercepat propagasi DNS adalah dengan cara merefresh browser beberapa kali. Anda bisa menggunakan shortcut CTRL+F% secara bersamaan untuk mempercepat refresh halaman browser.

Jika cara ini masih belum berhasil, cobalah langkah selanjutnya.

2. Menghapus Cache Browser

Langkah selanjutnya yang bisa Anda coba adalah dengan menghapus cache browser. Seperti kita ketahui, cache membuat browser menampilkan halaman website yang belum terupdate.

Untuk itu, dengan membersihkan cache tersimpan, kita bisa mengakses informasi baru dari sebuah website. Untuk membersihkan cache, Anda bisa menekan tombol shortcut CTRL + Shift + Delete, lalu pilih ‘Clear Data’.

Setelah itu, restart browser dan coba akses domain kembali.

3. Matikan ISP Sementara

Seperti yang Panda jelaskan di atas, ISP juga menjadi salah satu kendala yang membuat propagasi DNS menjadi lebih lama.

Untuk memastikan ini terjadi karena masalah ISP, cobalah untuk mematikan koneksi internet Anda dan beralih ke koneksi yang berbeda. Atau bisa juga, mengakses domain dari device lain atau meminta bantuan orang lain.

Jika berhasil mengaksesnya, artinya koneksi ISP yang bermasalah.

Sebagai solusi, cobalah untuk restart koneksi internet. Hal ini bisa kita lakukan sebagai upaya untuk mempercepat proses refresh jaringan internet ISP. Jika masih belum berhasil, cobalah menghubungi tim teknis dari provider internet Anda.

4. Mengatur TTL (Time to Live) DNS

TTL atau Time to Live merupakan waktu yang nameserver butuhkan untuk melakukan pembaruan DNS. Anda bisa mengatur waktu TTL agar lebih cepat untuk setiap record DNS.

Pengaturan ini sendiri dapat Anda akses di bagian DNS Management dari cPanel. Setelah mengaksesnya, cobalah untuk mengganti nilai TTL menjadi lebih kecil dari angka default 14400. Misalnya mengubahnya menjadi 7200. Setelah itu, pilih ‘Simpan’.

5. Melakukan Flush DNS

Seperti yang pernah Panda ulas di artikel sebelumnya, Flush DNS adalah sebuah perintah yang bisa kita gunakan untuk memperbarui cache DNS client. Dalam proses ini, cache DNS akan menyesuaikan informasi dari perubahan yang terjadi pada sebuah domain, nameserver, dan data terbaru lainnya.

Propagasi DNS Anda mungkin telah selesai, tapi Anda belum berhasil mengaksesnya karena ada cache DNS lama yang masih tertinggal. Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk proses flush DNS ini.

Untuk pengguna Windows, Anda bisa mengikuti tutorial berikut ini :

  1. Akses Command Prompt dari menu Run dengan cara tekan tombol Windows + R dari keyboard.
  2. Ketik teks cmd, dan tekan OK atau Enter.
  3. Saat tampilan Command Prompt muncul, buat perintah flush DNS dengan mengetik ‘ipconfig /flushdns’, lalu tekan Enter.
  4. Saat proses flush DNS berhasil, Anda akan membaca pesan ‘Successfully flushed the DNS Resolver Cache’.

Untuk lebih lengkapnya, Anda bisa membaca artikel Panda sebelumnya : Apa itu Flush DNS? Bagaimana Cara Tercepat Melakukannya?.

Kesimpulan

Itu tadi penjelasan lengkap tentang apa itu propagasi domain dan bagaimana cara mempercepat proses propagasi DNS. Jika Anda baru saja membeli domain dan sudah merasa menghubungkan domain ke server dengan tepat tapi masih belum bisa diakses, ini mungkin terjadi karena propagasi DNS ini.

Umumnya, proses propagasi ini bisa memakan waktu 24-48 jam. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya proses ini. Misalnya saja kendala pada ISP, perubahan informasi WHOIS, faktor DNS cache dan tentu saja, registrar domain.

Jika setelah tenggat waktu normal propagasi belum kunjungi usai, cobalah untuk melakukan pengecekan status propagasi di situs referensi di atas. Selanjutnya, Anda bisa melakukan beberapa upaya di atas untuk mempercepat proses propagasi DNS ini.

Jika deretan tindakan di atas masih belum berhasil, cobalah untuk menghubungi tim support layanan hosting untuk mendapatkan bantuan teknis.

Selamat mencoba!

Apa itu Flush DNS? Bagaimana Cara Tercepat Melakukannya?

Apa itu Flush DNS? Bagaimana Cara Tercepat Melakukannya?

Flush DNS sering menjadi salah satu trik yang kita lakukan saat mengalami error tertentu pada website. Nah, di artikel kali ini, Panda akan secara khusus mengupas apa itu Flush DNS dan bagaimana cara melakukannya.

Pengertian Flush DNS

Flush DNS adalah sebuah perintah yang bisa kita gunakan untuk mereset cache DNS client agar bisa menyesuaikan informasi dari perubahan yang terjadi pada sebuah domain, name server, dan data terbaru.

Cache DNS ini sendiri menyimpan alamat IP dari setiap situs web yang dikunjungi. Proses penyimpanan ini membuat browser bekerja lebih cepat saat pencarian yang sama dilakukan.

Proses flush ini biasanya dilakukan untuk tujuan tertentu. Mulai dari melindungi history browser atau membantu menyelesaikan kesalahan tertentu.

Cara Melakukan Flush DNS

Proses flush dapat dilakukan dengan beberapa cara, tergantung dari sistem operasi yang dilakukan. Di artikel Panda ini, Anda dapat melakukan flush DNS untuk sistem operasi Windows, Linux, hingga Mac.

Windows

Ada dua langkah untuk flush DNS di Windows, yaitu melalui akses Command Prompt dan memberi perintah ipconfig.

Berikut adalah langkah-
langkah melakukannya melalui Command Prompt :

  1. Akses Command Prompt dari menu Run, dengan cara tekan tombol Windows + R dari keyboard.
  2. Ketikkan teks cmd dan tekan OK atau Enter
    Teks cmd pada command prompt
  3. Setelah itu akan muncul tampilan Command Prompt seperti gambar berikut ini :
    Menu command prompt untuk flush dns
  4. Untuk menghapus cache DNS, ketikkan perintah ‘ipconfig /flushdns’ pada Command Prompt, lalu tekan ‘Enter’.
  5. Kemudian Anda akan melihat proses flush ini berhasil dilakukan dengan informasi seperti ini :
    Cara Melakukan Flush DNS di Windows

Mac

Cara melakukan flush DNS di Mac terbagi kedalam dua cara, tergantung dari versi OS yang digunakan.

Untuk pengguna Mac OS X Yosmite, Anda dapat langsung m
engatasi problem DNS ini melalui setting Application > Utilities > Terminal dengan  command :

$ sudo killall -HUP mDNSResponder
Cara flush DNS di Mac OS X Yosmite

Sedangkan untuk pengguna Mac OS X Lion, X Mountain Lion, X Mavericks, X El Capitan, dan OS Sierra, cara flush nya adalah melalui Application > Utilities > Terminal dengan command :

$ sudo killall -HUP mDNSResponder
Cara flush DNS di OS Mac

Linux

Selanjutnya adalah untuk pengguna Linux. Anda dapat melakukan proses flush ini pada Linux, khususnya Ubuntu, dengan cara membuka command terminal, lalu memberi perintah sudo berikut ini :

$ sudo service network-manager restart

Masing- masing distribusi Linux bisa juga mempunyai perintah yang sedikit berbeda. Jika perintah di atas tidak bekerja, Anda bisa menggunakan salah satu dari perintah berikut ini :

/etc/init.d/nscd restart
sudo /etc/init.d/nscd restart
sudo service nscd restart
/etc/rc.d/init.d/nscd restart
sudo /etc/init.d/dns-clean start
/etc/init.d/nscd restart
sudo /etc/init.d/nscd restart
sudo service nscd restart
/etc/rc.d/init.d/nscd restart

sudo /etc/init.d/dns-clean start

Kesimpulan

Dari tips ini, memang kita akan mengetahui jika cara flush DNS memang cenderung teknis sekali. Meski begitu, siapapun masih bisa melakukannya sendiri dengan cara yang mudah, seperti di tutorial ini.

Setelah proses i
ni berhasil, ipconfig akan memperbarui cache DNS resolver. Aktivitas ini akan menghapus cache DNS lama dan mengupdate nya dengan cache baru.

Jika DNS menyebabkan
error pada website, flush DNS adalah solusi yang Anda butuhkan untuk memperbaikinya. Selamat mencoba!

Pengertian Domain, Fungsi, Jenis dan Cara Kerjanya

Pengertian Domain, Fungsi, Jenis dan Cara Kerjanya

Bicara website dan hosting, tidak lengkap rasanya kalau tidak ikut serta membicarakan domain. Ibarat sebuah rumah, domain adalah alamat yang menjadi identitas rumah tersebut. Tanpa domain, tentu tidak bisa kita sampai ke alamat tujuan kita.

Secara umum, domain berfungsi memudahkan pengguna internet untuk mencari dan menuju informasi yang mereka inginkan. Berbekal alamat domain, mereka dapat masuk ke pustaka konten dan informasi dari sebuah website.

Tentang apa itu domain, fungsi dan cara kerjanya, Panda akan mengulasnya secara lengkap melalui artikel ini. Mari kita simak bersama!

A. Pengertian Domain

Hal- hal yang harus dilakukan setelah membeli domain baru

Secara sederhana, domain dapat kita artikan sebagai alamat yang akan mengantarkan seseorang ke laman website yang akan dituju. Domain adalah bentuk sederhana dari alamat IP yang berupa kombinasi angka yang rumit.

Pengertian dari domain ini sendiri adalah nama yang diberikan untuk mengidentikasi sebuah jaringan tanpa menggunakan alamat IP yang terdiri dari angka- angka yang rumit dan sulit dihafal.

Dengan menggunakan nama domain, tentu lebih memudahkan siapapun untuk mengaksesnya. Sebagai contoh, Anda tentu lebih mudah mengingat alamat pandagila.com daripada 182.111.5.5, bukan?

Domain in sendiri terdiri dari dua elemen utama. Contohnya Pandagila.com, terdiri dari nama website (Pandagila) dan ekstensi (.com). Dengan nama domain ini, Anda tidak perlu repot- repot mengecek alamat IP dari web Pandagila. Langsung ketik nama dan ekstensi domain Panda, dan voila… Anda akan sampai di laman web ini.

B. Apa itu Subdomain, DNS dan Nameserver?

Nah, sekarang kita perlu berkenalan dengan beberapa istilah yang sering berkaitan dengan domain, selain hosting yang kita bahas di atas. 

B.1 DNS (Domain Name Server)

DNS atau Domain Name Server adalah sebuah sistem database yang berfungsi untuk mentranslasi atau mengarahkan nama domain menjadi IP address dan sebaliknya.

Saat Anda membeli domain dan hosting, mereka tidak seketika terhubung begitu saja. Pasalnya, keduanya adalah dua hal yang berbeda. Anda membutuhkan bantuan DNS. Dengan DNS, Anda bisa mengarahkan domain ke layanan apapun sesuai kebutuhan Anda.

DNS ini sendiri terdiri beberapa record, antara lain NS Record, A Record, CNAME, PTR, TXT, SOA, dan sebagainya.

Melalui DNS, ANda bisa mengarahkan domain ke IP server yang Anda butuhkan melalui setting DNS di panel domain tempat Anda membeli layanan tersebut.

B.2 Name Server (NS)

Selanjutnya, Nameserver adalah nama unik yang mewakili nama server penyimpan database name system atau Server DNS, dimana di dalamnya ada informasi IP address yang menuju ke server hosting yang telah ditentukan sebelumnya.

Agar mudah mengingatnya, umumnya nameserver menggunakan nama domain.

Contoh NS adalah berikut :

  • Ns1.pandagila.com
  • Ns2.pandagila.com

B.3 Subdomain

Domain dan subdomain tidak bisa dipisahkan. Subdomain dapat Anda gunakan untuk memisahkan domain lain yang masih merupakan turunan dari domain utama Anda.

Subdomain bisa kita sebut sebagai alias dari domain utama. Biasanya subdomain akan memuat kata atau nama yang lebih khusus dari keseluruhan website.

Misalnya saja untuk website ecommerce, biasanya mereka akan mempunyai blog.domain.com yang merupakan subdomain dari www.domain.com. Kata blog ini lah yang kita sebut dengan subdomain.

Subdomain biasanya kita gunakan agar konten yang ada di dalamnya terpisah dari konten utama dari website. Dalam contoh subdomain blog di web ecommerce tadi, seringkali dimaksudkan sebagai konten edukasi dari ecommerce tadi.

Dengan adanya subdomain, pemilik website tidak akan bingung untuk menambahkan artikel, tanpa merusak estetika toko online.

Manfaat lain dari subdomain antara lain :

  • Search engine akan melihat subdomain ini sebagai website unik yang tidak terhubung dengan domain utama. Artinya, peringkat subdomain juga bisa naik dan mengimbangi domain utama.
  • Saat dikelola dengan baik, subdomain bisa langsung terindeks dengan cepat. Subdomain akan mendapat manfaat dari domain utama dan bisa menggeser turun website kompetitor.

C. Perbedaan Domain vs Hosting

Ada domain, ada juga hosting. Apa bedanya?

Seperti yang Panda jelaskan di atas, domain adalah alamat yang akan membawa pengguna ke sebuah laman website. Sedangkan hosting, seperti yang Panda jelaskan dalam pengertian hosting, merupakan tempat menyimpan semua file dan data website.

Untuk memudahkan memahaminya, kita bisa menggunakan analogi perumahan. Di sebuah perumahan, hosting adalah rumah yang Anda tinggali, dimana Anda bisa menyimpan semua perabotan. Sedangkan domain adalah alamat rumah Anda.

Tanpa adanya alamat, orang- orang akan kesulitan untuk mengunjungi rumah Anda. Sedangkan tanpa adanya perumahan itu, orang- orang juga tidak bisa mengunjungi tempat Anda tinggal karena itu mungkin hanya sepetak tanah kosong.

Artinya, domain dan hosting punya hubungan yang sangat erat. Tanpa hosting, Anda tidak bisa meletakkan file- file website Anda. Pengunjung hanya bisa menemukan laman web kosong tanpa konten.

Dan tanpa domain, semua akan menjadi percuma karena orang- orang tidak tahu cara mengunjungi Anda.

D. Mengenal Addon Domain dan Parking Domain

Selain pengertian domain, subdomain, dan DNS, kita juga perlu kenalan dengan Addon Domain dan Parking Domain. Layanan hosting terbaik biasanya akan menawarkan addon domain gratis dengan batasan tertentu setelah Anda membeli sebuah domain.

Mari kita ketahui keduanya dengan baik.

D.1 Addon Domain

Addon domain adalah domain yang ditambahkan setelah Anda mempunyai domain utama. Kendati begitu, addon domain tidak bekerja seperti subdomain.

Subdomain biasanya menggunakan nama domain utama, sedangkan add domain adalah domain independen dengan konten dan sasaran yang jelas berbeda. Domain ini nanti akan masuk ke sub-direktori pada folder public_html di cPanel hosting.

Meski berada dalam sub folder, pengunjung tidak akan sadar kalau domain tersebut merupakan addon domain. Ini karena tampilannya selayaknya website dengan domain terpisah.

Misalnya, jika ada domain halogeet.com yang merupakan addon dari pandagila.com, maka folder halogeet.com akan berada di dalam folder public_html milik pandagila.com. Namun, secara langsung, keduanya berdiri sendiri sebagai website independen.

D.2 Parking Domain

Apakah Anda sering mendengar istilah parking domain? Parking domain atau parked domain merupakan nama domain yang diarahkan ke domain utama.

Apakah ini artinya redirect? Atau ada bedanya? Tentu saja berbeda.

Redirect adalah saat Anda mempunyai domain utama contohdomain.com, lalu membuat domain baru contohdomain.id. Domain .com kemudian akan di-redirect ke domain .id sehingga pengunjung bisa mengakses domain lama dengan redirect langsung ke contohdomain.id dan tidak masuk ke laman error 404.

Parked domain adalah domain yang digunakan untuk menyimpan lebih dari satu nama domain untuk website yang sama. Domain ini biasanya dimaksudkan untuk pengembangan dan perlindungan terhadap kemugnkinan cybersquatting.

Contohnya saat Anda mempunyai example.com, dan juga membuat example.net. Pengunjung yang mengakses example.net akan mengakses isi halaman yang sama persis dengan domain example.com. Namun saat ada link yang diklik, nanti pengunjung akan diarahkan ke domain utama.

E. Cara Kerja Domain

Setelah memahami apa itu domain, langkah selanjutnya adalah mengetahui cara kerja domain.

Seperti yang kita ketahui, fungsi utama dari domain adalah mengantarkan Anda menuju ke website tertentu. Jumlah domain di dunia ini sangat banyak, berkisar jutaan domain. Meski setiap domain unik, akan tetap sulit menemukannya jika alamat- alamat ini tersebar tak karuan.

Oleh karena itu, domain- domain tersebut dikumpulkan ke dalam sebuah daftar kontak yang disebut dengan DNS Server. Layanan web hosting ini lah yang mengelola DNS server ini.

Saat domain yang Anda cari sudah ditemukan dalam DNS Server, browser dapat menampilkan halaman yang Anda inginkan. Jika alamat tersebut belum ketemu, maka akan dicari di DNS Server lainnya.

Dalam menjalankan fungsinya, domain bekerja seperti shortcut yang mengarahkan kita ke server yang membuat website online.

F. Jenis- jenis/ Tipe Domain

Ada beberapa tipe domain yang perlu Anda ketahui :

1. Top Level Domain (TLD)

TLD Top Level Domain

Top level domain (TLD) adalah ekstensi domain yang terletak di belakang nama website. Contohnya adalah pandagila.com, dengan TLD berupa .com.

TLD populer karena paling umum dan mudah diingat, sehingga banyak sekali yang menggunakan. Contoh dari TLD ini antara lain .com, .net, .org, .biz.

TLD ini sendiri terdiri dari beberapa jenis, yaitu Generic Top Level Domain (gTLD), Country Code Top Level Domain (ccLTD), gTLD – generic Top Level, dan Premium Top Level Domain.

1.1. Generic Top Level Domain (gLTD)

Generic Top Level Domain (gTLD) adalah domain yang mempunyai ekstensi umum, tanpa identifikasi lokasi, jenis organisasi, atau tujuan kepemilikan website.

Berikut adalah beberapa jenis ekstensi gTLD yang populer dan kecenderungan fungsinya :

  • .com : untuk website dengan kebutuhan komersial.
  • .biz : untuk website bisnis.
  • .org : untuk website organisasi.
  • .edu : untuk instansi pendidikan.

Kelebihan dari domain gTLD adalah :

  • Ekstensi yang populer dan mendunia, sehingga sangat mudah dikenali.
  • Proses pendaftaran domain mudah dan cepat.
  • Harga relatif murah dari ekstensi lain.

Kekurangan domain gTLD adalah :

  • Pencarian nama domain lebih kompetitif karena semua orang bisa mendaftarkannya.
  • Resiko tinggi untuk aktivitas ilegal, seperti phising atau cyber crime lainnya, karena pendaftaran tidak perlu menyerahkan identitas.

1.2 Country Code Top Level Domain (ccTLD)

Selanjutnya ada juga Country Code Level Domain (ccTLD). ccTLD adalah domain yang menampilkan identitas negara dan mengidentifikasikan bahwa konten ditujukan untuk masyarakat dari negara tersebut.

Karena memuat identitas negara, maka domain ccTLD ini memuat inisial negara. Contohnya adalah : .id, .sg, .cn, .au, dan sebagainya.

Selain ccTLD utama, ada beberapa nama variasi domain ccTLD, sesuai kebijakan masing- masing negara. Misalnya untuk nama variasi domain di Indonesia :

  • .ac.id : untuk identifikasi lingkungan atau lembaga akademik tingkat perguruan tinggi. 
  • .co.id : untuk identifikasi organisasi komersial atau perusahaan.
  • .sch.id : merupakan domain khusus untuk website sekolah.
  • .web.id : untuk organisasi atau perorangan.
  • .go.id : adalah domain khusus untuk instansi pemerintahan.

Kelebihan domain ccTLD :

  • Menunjukkan identitas asal negara website dan pemilik. Pembelian domain ini wajib menggunakan kartu identitas atau paspor.
  • Mempunyai reputasi yang baik karena ada syarat khusus untuk pembelian domainnya.
  • Pilihan nama domain lebih banyak.
  • Lebih efektif untuk menjangkau target market dalam negeri karena hasil pencarian akan diutamakan sesuai asal negara domain.

Kekurangan domain ccTLD :

  • Spesifik ke satu negara, tidak cocok untuk Anda yang ingin menjangkau pasar internasional.
  • Prosedur pendaftaran yang lebih rumit dari domain ekstensi .com.
  • Harga cenderung lebih mahal dari ekstensi lain.

1.3 Premium TLD

Premium TLD adalah alternatif penamaan domain dengan menggunakan ekstensi- ekstensi premium. Contohnya seperti .site, .travel, .host, .doctor, dan ekstensi lainnya.

Penggunaan domain premium TLD ini cenderung memberi penekanan spesifikasi sebuah website. Misalnya untuk ekstensi .travel, besar kemungkinan website ini membahas tentang travel atau layanan produk/ jasa travel. Begitu juga dengan ekstensi lainnya.

Kelebihan domain Premium TLD :

  • Spesifik merujuk ke spesifikasi sebuah website.
  • Alternatif domain .com yang sudah orang lain miliki.

Kekurangan domain Premium TLD :

  • Harga relatif lebih mahal dari ekstensi domain lainnya.
  • Ekstensi domain tidak sefamiliar domain gTLD biasa.

2. Second Level Domain (SLD)

Tipe domain selanjutnya adalah Second Level Domain, atau SLD, atau 2LD. SLD merupakan bagian dari domain, yang letaknya sebelum ekstensi TLD.

SLD biasanya merujuk pada nama organisasi, instansi, atau nama pilihan yang digunakan. Atau sebut saja, SLD adalah nama domain itu sendiri. Misalnya dari www.pandagila.com , maka .com adalah TLD nya, dan pandagila adalah SLD nya.

Karena SLD adalah bagian penting dari alamat website Anda, maka penting untuk memilihnya dengan bijak. Buatlah dengan nama yang mudah diingat dan tidak terlalu panjang. Lebih lengkapnya, Anda bisa membaca artikel Panda : Tips Memilih Nama Domain yang Baik untuk Website Anda.

TLD, SLD dan 3LD dalam domain

3. Third Level Domain

Selain SLD, ada juga yang namanya Third Level Domain atau 3LD. Third level domain ini letaknya paling depan dari satu kesatuan URL nama domain.

Misalnya saja dalam komponen www.pandagila.com tadi, maka third level domain nya adalah www itu sendiri. Ada juga yang menyebut 3LD ini sebagai subdomain.

Misalnya untuk alamat webmail.pandagila.com atau blog.zalora.com, maka yang menjadi 3LD nya adalah webmail dan blog di masing- masing website.

G. Kesimpulan

Cukup mudah untuk memahami pengertian domain, jenis dan cara kerjanya, bukan?

Pengertian domain adalah sebuah nama yang diberikan untuk mengidentifikasi sebuah jaringan tanpa menggunakan alamat IP (internet protokol), karena IP terdiri dari angka- angka yang rumit dan sulit dihafal.

Dengan menggunakan nama domain, pengunjung akan lebih mudah menemukan dan mengakses alamat website yang ia kunjungi.

Untuk mempunyai domain sendiri, penting untuk Anda mengenali jenis- jenis domain, cara kerjanya dan juga apa itu hosting. Selanjutnya, Anda bisa membeli domain di perusahaan layanan hosting dan domain.

Saat mendaftar, Anda bisa memilih nama website dengan ekstensi sesuai yang Anda inginkan. Selama nama yang Anda pilih belum ada yang menggunakan, maka Anda akan bisa memilihnya.