Performance Marketing : Pengertian, Cara Kerja & Strategi Penerapan

Performance Marketing : Pengertian, Cara Kerja & Strategi Penerapan

Dalam hangatnya perbincangan tentang strategi marketing yang ciamik, performance marketing menjadi salah satu yang wajib perusahaan pertimbangkan. Pasalnya, dalam strategi ini, para pengiklan hanya akan membayar saat apa yang menjadi tujuan bisnis tercapai. Terdengar menarik dan efektif, bukan?

Tidak heran, diantara strategi marketing yang bertebaran, performance marketing adalah salah satu yang menjadi incaran perusahaan. Marketing ini sendiri pada dasarnya merupakan kombinasi dari brand marketing dan paid advertising. Tertarik untuk mengenalinya lebih lanjut? Simak ulasan Panda, ya!

Pengertian Performance Marketing adalah

Performance marketing adalah strategi pemasaran digital yang berfokus pada efektivitas hasil tindakan atau konversi pelanggan. Strategi marketing ini lebih mementingkan hasil yang terukur seperti leads, penjualan, atau unduhan aplikasi. 

Di agensi digital, performance marketing termasuk jenis campaign yang sedang hits. Pasalnya, di campaign ini advertiser wajib memberikan hasil yang positif sesuai dengan tujuan bisnis yang ingin dicapai. Tujuan utama performance marketing adalah untuk mendapatkan hasil nyata yang memberi nilai tinggi bagi bisnis, seperti registrasi, pembelian, langganan, dan lainnya.

Manfaat utama performance marketing antara lain:

  • Mengukur hasil kampanye pemasaran dengan lebih akurat
  • Meningkatkan ROI kampanye pemasaran 
  • Menargetkan audiens yang lebih relevan
  • Mengoptimalkan anggaran pemasaran pada channel yang efektif

Perbedaan Performance Marketing dengan Digital Marketing Lainnya

Lantas apa yang menjadi pembeda antara performance marketing dan campaign digital marketing lainnya? Antara lain sebagai berikut :

  • Lebih fokus pada hasil konversi daripada awareness atau jangkauan
  • Mengutamakan data dan pengukuran ketimbang kreativitas
  • Bersifat dinamis dan selalu dioptimasi berdasarkan data
  • Bekerja berdasarkan model pembayaran per aksi (pay per action)

Dengan demikian, performance marketing lebih mengutamakan efisiensi dan efektivitas daripada awareness atau branding dalam strategi digital marketing.

Cara Kerja Performance Marketing

Performance marketing bekerja berdasarkan model pay-for-performance, di mana pemasar hanya membayar iklan atau promosi jika menghasilkan tindakan atau konversi yang diinginkan, seperti klik, registrasi, pembelian, dll.

Beberapa cara utama performance marketing bekerja:

1. Model Pay-for-Performance

  • Performance marketing berdasarkan  pada model bayar berdasarkan kinerja, di mana pengiklan hanya membayar ketika iklan menghasilkan konversi yang mereka inginkan. Ini berbeda dari model iklan tradisional di mana pengiklan membayar untuk impresi atau exposure independen dari hasilnya.
  • Pengiklan hanya membayar ketika tindakan yang berharga. Misalnya saja saat klik, lead, penjualan, unduhan, dll terjadi. Ini menghilangkan risiko pemasaran dan memastikan iklan bekerja efektif seperti keinginan.
  • Model ini mendorong hasil yang efektif dan menghilangkan pemborosan pada iklan yang tidak menghasilkan. Pengiklan mendapatkan ROI positif karena hanya membayar iklan yang terkonversi.

2. Peran Data dan Analytics 

  • Data dan analitik sangat penting dalam performance marketing untuk melacak KPI dan mengoptimalkan kampanye untuk hasil terbaik.
  • Data seperti tingkat klik, konversi, biaya per akuisisi, ROI, dll berguna untuk mengukur efektivitas dan menyesuaikan strategi.
  • Alat analitik canggih memungkinkan pelacakan multi-channel dan atribusi untuk memahami jalur konversi pelanggan.
  • Data dan insight berguna untuk menargetkan audiens yang tepat, menguji kreativitas iklan, menyesuaikan penawaran, dan banyak lagi. Analisis mendalam mengarah pada kampanye yang lebih efektif.

3. Menetapkan KPI dan Tujuan

  • Penetapan KPI (Key Performance Indicator) wajib untuk melacak kemajuan terhadap tujuan performance marketing.
  • Tujuan umum termasuk peningkatan penjualan, leads, keanggotaan, unduhan aplikasi, dan lainnya.
  • Beberapa KPI umum adalah CTR, biaya per klik, CPA, ROAS, CAC, konversi, dll. KPI harus spesifik dan terukur.
  • Seluruh tim dan mitra harus memahami KPI dan tujuan yang ingin dicapai melalui inisiatif performance marketing.
  • Data harus terus dipantau terhadap KPI untuk mengevaluasi kinerja dan membuat penyesuaian strategi untuk mencapai tujuan.

Jenis-Jenis KPI Dalam Performance Marketing

Terdapat berbagai jenis KPI yang berguna untuk mengukur keberhasilan dalam performance marketing. Antara lain adalah sebagai berikut :

1. ROI (Return on Investment) 

ROI adalah salah satu metrik paling penting dalam performance marketing. Metrik ini mengukur seberapa banyak pengembalian yang pengiklan peroleh dari setiap rupiah yang diinvestasikan pada kampanye pemasaran. Semakin tinggi ROI, semakin efektif sebuah kampanye.

2. CPA (Cost Per Acquisition)

Cost Per Acquisition (CPA) mengukur biaya rata-rata yang pengiklan butuhkan untuk mendapatkan seorang pelanggan baru. Semakin rendah CPA, semakin efisien biaya untuk mendapatkan pelanggan.

3. Customer Lifetime Value 

Customer Lifetime Value (CLV) mengukur pendapatan rata-rata yang dapat dihasilkan dari seorang pelanggan selama masa hubungan mereka dengan perusahaan. CLV penting untuk menilai apakah CPA masih wajar dibandingkan nilai pelanggan.

4. Click Through Rate

Click Through Rate (CTR) mengukur rasio pengunjung yang mengklik tautan iklan dengan yang melihat iklan. CTR yang tinggi mengindikasikan iklan yang relevan dan menarik.

5. Conversion Rate

Conversion Rate atau tingkat konversi mengukur persentase pengunjung yang mengambil tindakan yang diinginkan, seperti membeli produk atau mengisi formulir. Tingkat konversi yang tinggi menunjukkan iklan dan tampilan website yang efektif.

Channel Performance Marketing

Performance marketing dapat dilakukan melalui berbagai saluran pemasaran digital. Beberapa saluran utama yang biasa performance marketing gunakan antara lain : 

1. Paid Search (Google, Bing)

Paid search atau iklan bayar per klik merupakan salah satu saluran performance marketing yang paling populer. Platform seperti Google Ads dan Bing Ads memungkinkan pengiklan membayar setiap kali iklan mereka diklik oleh pengguna. Biaya iklan ditentukan melalui sistem lelang, di mana pengiklan berkompetisi untuk menempatkan iklan mereka di posisi teratas untuk kata kunci tertentu.

Pengiklan hanya membayar jika ada klik, sehingga ini adalah bentuk performance marketing murni. Google Ads adalah platform paid search yang paling banyak digunakan di dunia.

2. Social Media Ads (Facebook, Instagram, Twitter, Youtube) 

Platform media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan Youtube menyediakan fitur iklan berbayar untuk kampanye performance marketing. Iklan media sosial memungkinkan pemasar menargetkan audiens berdasarkan data demografis, minat, perilaku, dan faktor lainnya.

Biaya iklan dalam platform media sosial umumnya menggunakan model lelang seperti pada Google Ads. Pemasar hanya membayar jika ada klik atau konversi lain yang didefinisikan, seperti tayangan video, lead, dll.

3. Affiliate Marketing

Affiliate marketing adalah bentuk performance marketing di mana afiliasi mendapat komisi atas tindakan yang pengunjung lakukan. Misalnya saja tindakan melakukan pembelian produk atau pendaftaran layanan.

Nantinya, para affiliate akan mendapatkan komisi dari setiap konversi yang terjadi dari tindakan pembeli. Affiliate marketing menggunakan model pembayaran kinerja murni.

4. Email Marketing 

Email masih menjadi salah satu saluran digital marketing yang efektif. Melalui email marketing, pemasar dapat mengirimkan promosi produk, konten, dan penawaran khusus ke daftar kontak email.

Biaya untuk email marketing relatif murah dan hasilnya langsung dapat terukur berdasarkan tingkat konversi seperti klik, unsubscribe, buka email, dll. Oleh sebab itu, email marketing sangat cocok untuk strategi performance marketing.

Tips Menyusun Strategi Performance Marketing 

Berikut adalah beberapa tips penting dalam menyusun strategi performance marketing yang efektif:

1. Pahami Audience dan Target Market

Langkah pertama dalam menyusun strategi performance marketing adalah memahami dengan baik siapa target audience yang ingin Anda raih. Pelajari demografi, minat, perilaku, dan kebutuhan audience secara mendalam. Dengan demikian, Anda bisa menentukan pendekatan dan pesan yang tepat dalam konten dan kampanye performance marketing. 

2. Tetapkan Tujuan dan KPI

Tentukan tujuan spesifik apa yang ingin Anda capai melalui strategi performance marketing ini. Misalnya meningkatkan penjualan produk tertentu, traffik website, atau lead generasi. Kemudian, tentukan KPI (Key Performance Indicator) untuk mengukur keberhasilan dalam mencapai tujuan tersebut. 

3. Pilih Channel Performance Marketing

Pilihlah channel performance marketing mana yang paling relevan dengan audience dan tujuan Anda, seperti Google Ads, Facebook Ads, content marketing, email marketing, dan lainnya. Channel mana yang memiliki potensi untuk memberikan ROI (return on investment) paling optimal bagi bisnis Anda.

4. Optimalkan Iklan 

Jika menggunakan iklan seperti Google Ads atau Facebook Ads, lakukan optimasi iklan secara rutin agar performanya makin baik. Optimasi bisa dilakukan terhadap copywriting iklan, penempatan iklan, targeting audience, bid, dan parameter lainnya. Selalu monitor metrik iklan dan lakukan improvement terus-menerus. 

5. Analisa Data Secara Rutin 

Selalu pantau dan analisa data kampanye performance marketing secara rutin, seperti CTR, konversi, CPA, ROI, dan metrik penting lainnya. Dengan begitu Anda bisa mengidentifikasi strategi dan taktik mana yang paling efektif untuk ditingkatkan.

6. Uji Coba Terus Menerus

Jangan takut untuk terus menguji berbagai variasi strategi dan taktik baru dalam performance marketing. Misalnya menguji channel baru, pesan iklan yang berbeda, segmentasi audience baru, dan lain sebagainya. Dengan uji coba terus menerus, Anda bisa terus meningkatkan efektivitas strategi performance marketing.

Tantangan Dalam Performance Marketing

Performance marketing memiliki beberapa tantangan yang perlu diperhatikan, di antaranya:

1. Membangun Brand Awareness

Salah satu tantangan dalam performance marketing adalah membangun brand awareness atau kesadaran merek. Banyak spesialis performance marketing terlalu berfokus pada konversi dan ROI sehingga melupakan pentingnya membangun ekuitas merek jangka panjang.

Padahal brand awareness yang kuat dapat membantu meningkatkan konversi dan loyalitas pelanggan. Oleh karena itu, perlu diciptakan strategi performance marketing yang seimbang antara mendapatkan konversi singkat dan membangun brand awareness jangka panjang.

2. Mengukur Kontribusi Per Channel 

Tantangan lainnya adalah mengukur kontribusi masing-masing channel performance marketing. Banyak perusahaan menggunakan berbagai channel seperti PPC, SEO, email marketing, social media ads, dll. Sulit untuk mengisolasi dampak masing-masing channel terhadap konversi. Oleh karena itu diperlukan tracking pixel dan multi-channel attribution modelling agar bisa mengetahui kontribusi nyata dari setiap channel.

3. Mengukur Lifetime Value

Lifetime value (LTV) pelanggan sangat penting untuk mengukur suksesnya performance marketing dalam jangka panjang. Sayangnya, banyak yang hanya berfokus pada akuisisi pelanggan dan ROI jangka pendek.

Padahal pelanggan yang berharga adalah yang melakukan pembelian berulang dan memberikan income seumur hidup. Mengukur dan memaksimalkan LTV pelanggan adalah kunci sukses performance marketing sustainable.

Cara Mengukur Efektivitas Performance Marketing

Salah satu kunci sukses dalam performance marketing adalah mengukur dan menganalisis metrik kinerja dengan tepat. Beberapa cara terbaik untuk mengukur efektivitas performance marketing adalah:

1. Metrik KPI

Mendefinisikan KPI (Key Performance Indicator) yang tepat sangat penting untuk mengukur keberhasilan campaign performance marketing. Beberapa contoh metrik KPI yang berguna:

  • Cost Per Acquisition (CPA): biaya rata-rata untuk mendapatkan konversi
  • Return On Ad Spend (ROAS): nilai pendapatan per iklan 
  • Click Through Rate (CTR): rasio tayangan iklan ke klik
  • Conversion Rate: rasio pengunjung ke konversi

Dengan memantau KPI ini secara rutin, kita bisa mengoptimalkan kampanye dan mengalokasikan budget dengan lebih efisien.

2. A/B Testing

Metode A/B testing juga sangat bermanfaat untuk mengukur efektivitas strategi performance marketing. Dengan membuat dua variasi campaign (A dan B) dengan satu perbedaan (misalnya headline iklan), kita bisa menguji variasi mana yang menghasilkan metrik KPI terbaik.

Hasil A/B testing memungkinkan kita meningkatkan ROI dengan fokus pada elemen campaign yang paling efektif. Misalnya, mengetahui headline iklan mana yang menghasilkan CTR tertinggi.

3. Attribution Modeling 

Attribution modeling adalah teknik menganalisis customer journey untuk mengetahui touchpoints mana yang paling berpengaruh dalam menghasilkan konversi. Misalnya, iklan display, email marketing, dan konten organik bisa memiliki pengaruh yang berbeda terhadap jalur konversi pelanggan.

Dengan attribution modeling, kita bisa melacak nilai masing-masing channel dan mengalokasikan budget dengan lebih akurat berdasarkan kontribusinya dalam meningkatkan KPI yang didefinisikan.

Mengukur performance marketing dengan metrik KPI, A/B testing, dan attribution modeling memungkinkan kita mengoptimalkan strategi dan mendapatkan ROI terbaik dari campaign digital marketing.

Tools untuk Mendukung Performance Marketing

Performance marketing membutuhkan berbagai alat bantu agar dapat berjalan dengan efisien dan efektif. Beberapa alat tools pendukung dalam strategi ini adalah:

1. Google Analytics

Google Analytics adalah alat analitik web paling populer untuk melacak dan menganalisis trafik situs, sumber trafik, perilaku pengunjung, konversi, dan banyak lagi. Dengan Google Analytics, kita bisa memonitor semua aspek kampanye digital kita secara terperinci. Data ini sangat berguna untuk mengoptimalkan strategi marketing kita.   

2. Google Tag Manager

Google Tag Manager memudahkan kita untuk mengelola dan mengimplementasikan tag tracking di situs web tanpa perlu mengedit kode. Ini sangat penting dalam performance marketing untuk melacak konversi, events, dan lainnya.

3. Facebook Business Manager 

Alat ini memungkinkan kita mengelola akun, halaman, kampanye iklan, dan aset bisnis lainnya di Facebook dalam satu tempat. Kita bisa memonitor performance iklan Facebook dan Instagram kita di sini.

4. Google Ads 

Google Ads adalah platform iklan PPC milik Google. Kita bisa menjalankan kampanye iklan di Google Search, YouTube, Gmail, Display Network, dan jaringan iklan lainnya. Performa iklan bisa kita monitor langsung di platform ini.

5. Affiliate Marketing Software

Perangkat lunak affiliate marketing seperti Post Affiliate Pro, Affise, dan lainnya berguna untuk mengelola program affiliate marketing. Kita bisa melacak dan mengoptimalkan kinerja publisher kita di sini.

Kesimpulan

Performance marketing adalah sebuah pendekatan pemasaran di mana para pemasar berfokus pada perolehan aksi atau konversi yang terukur, alih-alih hanya pada kesadaran merek. Tujuan utamanya adalah menghasilkan konversi nyata seperti penjualan, registrasi, unduhan aplikasi, dan lain-lain. 

Dengan menerapkan prinsip-prinsip performance marketing dengan benar, Anda dapat meningkatkan ROI kampanye pemasaran dan menghasilkan lebih banyak konversi bisnis yang berharga. Semoga bermanfaat!

Tips Meningkatkan ROI : Strategi Marketing yang Efektif adalah Kunci

Tips Meningkatkan ROI : Strategi Marketing yang Efektif adalah Kunci

Meningkatkan ROI (Return on Investment) memang bukan perkara mudah. Namun untuk pebisnis, hal ini menjadi sangat vital agar bisa mengoptimalkan keuntungan dan dampak positif jangka panjang.

Jika saat ini Anda sedang bergelut dengan tingkat ROI yang buruk, Panda berharap artikel ini bisa mencerahkan dan memberi insight baru.

Pengertian ROI (Return on Investment)

Mengenal ROI Return on Investment
via Freepik.com

Sebelum melangkah jauh dengan strategi untuk meningkatkan ROI, penting sekali untuk memahami terlebih dulu tentang apa itu ROI.

ROI (Return on Investment) adalah rasio yang mengukur keuntungan atau kerugian yang diperoleh dari investasi dalam hubungannya dengan biaya investasi dan keuntungan yang diperoleh. Dalam bisnis, ROI digunakan sebagai alat untuk mengevaluasi efektivitas dan profitabilitas investasi.

ROI dihitung dengan membagi laba kotor yang diperoleh dari investasi dengan biaya investasi. Contohnya, jika Anda menginvestasikan Rp 10 juta dan kemudian mendapatkan laba kotor sebesar Rp 12 juta, maka ROI Anda adalah 20%. ROI juga dapat dihitung untuk jangka waktu tertentu, misalnya per tahun atau per kuartal.

Mengapa ROI Penting untuk Bisnis?

ROI penting dalam bisnis karena memungkinkan pemilik bisnis atau investor untuk mengevaluasi kinerja investasi mereka. Dengan mengetahui ROI, mereka dapat memutuskan apakah investasi tersebut layak untuk dilanjutkan atau tidak.

Selain itu, ROI juga membantu dalam membandingkan efektivitas investasi yang berbeda. Dalam situasi di mana sumber daya terbatas, ROI dapat membantu pemilik bisnis atau investor memprioritaskan investasi mana yang akan memberikan pengembalian terbaik.

Terakhir, ROI juga merupakan alat penting dalam membuat keputusan investasi jangka panjang. Dalam investasi jangka panjang, ROI membantu investor untuk memprediksi pengembalian investasi mereka di masa depan. Apakah menguntungkan atau justru merugikan?

Oleh karena itu, ROI dapat membantu investor memilih investasi yang paling menguntungkan dan mengurangi risiko kerugian dalam jangka panjang.

Dalam kesimpulannya, ROI adalah rasio yang sangat penting dalam bisnis karena memberikan gambaran tentang profitabilitas dan efektivitas investasi. ROI dapat membantu pemilik bisnis dan investor dalam memilih investasi yang paling menguntungkan dan memprioritaskan sumber daya mereka.

Cara Meningkatkan ROI dengan Strategi Pemasaran yang Efektif

via Freepik.com

Dalam empat kata, kunci untuk meningkatkan ROI (Return on Investment) suatu bisnis adalah strategi pemasaran yang efektif. Pemasaran yang efektif bisa membantu bisnis untuk mempertahankan loyalitas pelanggan, menarik pelanggan potensial dan meningkatkan penjualan.

Pemasaran yang efektif bukan hanya berdampak pada datangnya pelanggan baru, tapi sekaligus loyalitas pelanggan lama dalam jangka panjang. Hal ini lah yang pada akhirnya mendorong ROI untuk naik ke arah positif.

Berikut adalah beberapa strategi pemasaran efektif yang dapat Anda terapkan dalam bisnis : 

1. Membangun Brand yang Kuat

Membangun brand yang kuat bisa berdampak penting untuk meningkatkan ROI sebuah bisnis. Branding yang kuat membuat sebuah bisnis membedakan diri dari pesaing mereka, meningkatkan kesadaran merek dan membangun kepercayaan pelanggan.

Sebuah brand yang sudah kuat biasanya berbanding lurus dengan tingkat penjualan dan pengembangan lini bisnis mereka. Karena bukan rahasia lagi, brand yang kuat bisa menjadi pendorong ampuh dalam pengambilan keputusan pembelian pelanggan.

Ujung- ujungnya bisa ditebak, bisnis makin cuan dan ROI meningkat.

2. Meningkatkan SEO Website

Kendati strategi digital marketing terus berkemebang, SEO (Search Engine Optimization) tetap punya tempat tersendiri dan baik untuk menjadi fondasi jangka panjang.

Optimasi SEO website adalah strategi pemasaran yang efektif untuk meningkatkan ROI. SEO yang baik dapat membantu bisnis untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi dalam hasil pencarian mesin pencari. Hal ini juga berdampak pada meningkatnya kesadaran merek dan tingkat lalu lintas yang banyak ke website.

Website dengan SEO yang baik juga berarti tidak ketergantungan pada iklan pencarian. Ada beberapa perusahaan dimana mereka sangat buruk secara organik sehingga harus merogoh kocek cukup dalam untuk menghadirkan lalu lintas ke website. Selama hasilnya positif, tentu tidak masalah.

Tapi dengan SEO yang baik, perusahaan bisa lebih menghemat biaya iklan atau mengalokasikan iklan ke funnel campaign yang berbeda. Dengan biaya yang efektif dan hasil yang baik, ini menjadi salah satu strategi yang bisa diterapkan untuk meningkatkan ROI.

3. Menggunakan Media Sosial

Media sosial bisa membantu bisnis untuk menjangkau pelanggan potensial yang lebih luas. Dengan pengelolaan yang tepat, bisnis juga bisa membangun keterlibatan dengan pelanggan, dan meningkatkan kesadaran merek.

Ada banyak hal yang bisa dieksplor dalam penggunaan media sosial untuk bisnis ini. Pada akhirnya, dengan cara yang tepat, bisnis dapat meningkatkan peluang konversi dan pada akhirnya meningkatkan ROI.

4. Menciptakan Konten yang Berkualitas Tinggi

Konten bisa berdampak banyak hal untuk bisnis. Menciptakan konten berkualitas tinggi bisa membantu bisnis untuk menarik perhatian pelanggan potensial, membangun keterlibatan dengan pelanggan, dan meningkatkan kesadaran merek.

Konten yang bermanfaat dan relevan dengan audiens bukan hanya mendatangkan trafik, tapi sekaligus meningkatkan peluang konversi. Dengan formula ini, kita dapat berharap penjualan meningkat dan ROI terus semakin baik.

5. Menggunakan Google Ads

Google Ads sangat efektif menghasilkan trafik dan konversi untuk produk- produk berbasis kebutuhan. Google Ads dapat membantu bisnis dalam menargetkan kata kunci yang relevan dengan bisnis, menampilkan iklan pada pelanggan potensial yang sedang mencari produk atau layanan yang sama, dan meningkatkan kesadaran merek.

Dengan menggunakan Google Ads dengan cara yang tepat, bisnis dapat meningkatkan peluang konversi secara cepat dan pada akhirnya meningkatkan ROI.

Kesimpulan

ROI (Return on Investment) merupakan konsep yang sangat penting dalam dunia bisnis. Agar bisnis cuan maksimal, penting sekali untuk menjaga dan meningkatkan ROI.

Meningkatkan ROI suatu bisnis dapat dicapai dengan menggunakan strategi pemasaran yang efektif. Beberapa strategi pemasaran yang efektif meliputi membangun brand yang kuat, meningkatkan SEO website, menggunakan

Apa itu ROI, Cara Menghitung ROI dan Mengapa Sangat Penting Dalam Bisnis

Apa itu ROI, Cara Menghitung ROI dan Mengapa Sangat Penting Dalam Bisnis

Bicara tentang bisnis dan investasi, ROI (Return on Investment) adalah istilah penting yang harus kita pahami. Terutama untuk sobat Panda yang bekerja di bidang marketing, operasional, bisnis dan komersil.

Alasan utama untuk memahaminya karena ROI sendiri merupakan tolak ukur keuntungan bisnis yang paling efektif. Untuk lebih lengkapnya, Panda akan mengulas secara lengkap tentang apa itu ROI (Return on Investment), manfaat, dan cara menghitung ROI.

Apa itu ROI (ROI (Return on Investment)?

Kita mulai dengan memahami pengertian dari ROI. Return on Investment (ROI) adalah rasio untuk memperhitungkan efektivitas sebuah investasi yang diberikan. ROI bisa kita definisikan juga sebagai rasio antara keuntungan yang diperoleh dan biaya yang dikeluarkan.

ROI (Return on Investment) adalah suatu konsep yang sangat penting dalam dunia bisnis. Parameter ini mengukur seberapa besar keuntungan yang dihasilkan dari suatu investasi dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk investasi tersebut.

Contohnya, jika seseorang berinvestasi sebesar 100 juta rupiah dalam suatu bisnis dan mendapatkan keuntungan sebesar 150 juta rupiah, maka ROI-nya adalah 50%. Artinya, untuk setiap 1 rupiah yang diinvestasikan, bisnis tersebut menghasilkan 1,5 rupiah.

Mengapa ROI Penting dalam Bisnis?

via Freepik.com

ROI sangat penting dalam bisnis. Pasalnya, parameter ini bisa memberikan informasi yang berguna tentang efektivitas investasi.

Apakah profit yang diperoleh lebih besar dari nilai investasi awal? Apakah investasi terbaik ini hadir dalam bentuk research & development, promosi marketing atau penambahan tim sales? Atau ada beberapa segmen yang justru lebih banyak mendatangkan kerugian?

Dengan perhitungan ini, pebisnis akan melihat gambaran performa bisnis di periode tertentu.

1. Menentukan Strategi Bisnis

Dengan memahami ROI, seorang pengusaha dapat menentukan apakah investasi yang mereka lakukan layak atau tidak untuk dilanjutkan.

Seorang pengusaha yang berhasil memperoleh ROI tinggi cenderung akan berhasil dalam bisnisnya. Sebaliknya, seorang pengusaha yang mendapatkan ROI yang rendah cenderung mengalami kesulitan dalam menjalankan bisnisnya.

Selain itu, ROI juga dapat membantu pengusaha dalam pengambilan keputusan bisnis. Seorang pengusaha yang memiliki informasi yang jelas tentang ROI dapat menggunakan informasi tersebut untuk menentukan investasi yang akan dilakukan di masa depan. 

2. Alokasi Sumber Daya dengan Lebih Efektif

Yang tidak kalah pentingnya, ROI juga dapat membantu pengusaha untuk mengalokasikan sumber daya dengan lebih efektif. Seperti Panda lansir dari Oberlo, perhitungan ROI berdampak meringankan beban HR dalam menilai pekerjaan di tim sales.

Dalam hal ini, perusahaan akan menghitung ROI di jangka waktu tertentu. Selanjutnya, perusahaan akan membandingkan tingkat penjualan dan gaji karyawan perusahaan.

Bisa jadi, perusahaan perlu melakukan pengurangan gaji untuk karyawan yang performanya tidak berkualitas.

3. Kalkulasi Performa Produk Baru

Selanjutnya, ROI juga menjadi penting untuk bisnis karena punya andil dalam menghitung performa produk baru. Tingkat keuntungan produk perlu disandingkan dengan biaya produksi, promosi dan penjualannya.

Dan akhirnya, ini bisa menjawab pertanyaan apakah strategi marketing yang digunakan sudah cukup efektif atau justru tidak mempan?

Faktor yang Mempengaruhi ROI

Tentunya ada hal- hal yang bisa mempengaruhi tinggi rendahnya sebuah Return on Investment. Secara garis besar, hal ini terbagi ke dalam dua faktor berikut ini : 

1. Tingkat Turnover dari Operating Asset

Tingkat turnover atau tingkat perputaran aktiva dalam kegiatan operasional artinya kecepatan berputarnya operating asset dalam satu periode tertentu.

2. Profit Margin

Faktor selanjutnya adalah profit margin yang perusahaan hasilnya. Pebisnis bisa menganalisa laba bisnis perusahaan untuk menyimpulkan apakah ROI perusahaan sudah sesuai harapan atau tidak.

Cara Menghitung ROI (Return on Investment)

Setelah mengetahui pentingnya Return on Investment, langkah selanjutnya adalah mengetahui cara menghitung ROI. Dengan cara ini, kita bisa mengetahui jumlah keuntungan yang diperoleh dan biaya yang keluar untuk investasi tersebut.

Rumus dasar menghitung ROI : 

ROI = (Keuntungan – Biaya) / Biaya x 100%


Contoh studi kasus : 

Jika seseorang menginvestasikan Rp 100 juta rupiah untuk sebuah bisnis dan mendapatkan keuntungan sebesar 148 juta rupiah, maka ROI nya adalah sebagai berikut :

ROI (148-199)/100 x 100% = 48%


Dengan demikian, tingkat ROI dari studi kasus ini adalah 48%.

Kelebihan dan Kekurangan ROI

ROI memang memberikan perbedaan saat kita berhasil menggunakannya untuk analisa. Kendati begitu, parameter ini juga mempunyai kekurangan dan kelebihan.

Kelebihan

Berikut adalah beberapa kelebihan dari Return on Investment : 

  • Perhitungan yang mudah dan sederhana
  • Rumus bersifat general sehingga bisa diterapkan dan diadaptasi ke berbagai industri
  • Mampu mengukur efisiensi investasi dari segala aspek. Mulai dari modal, biaya operasi, hingga transaksi.
  • Membantu untuk membuat keputusan dan strategi bisnis yang lebih efektif.

Kekurangan

Sedangkan kekurangan dari ROI antara lain :

  • Bisa berpengaruh ke dividen kas secara signifikan
  • Sulit menentukan mana investasi yang paling berdampak karena semua investasi dipukul rata, sehingga sulit menentukan investasi mana yang paling menguntungkan.
  • Perhitungan ROI rawan tidak akurat karena tidak melibatkan metrik lainnya. Seperti inflasi, pajak, dan sejenisnya. Sehingga ini bisa menyebabkan perhitungan menjadi tidak aktual dengan situasi di lapangan. 

Kesimpulan

Pengertian dari ROI (Return on Investment) adalah konsep yang sangat penting dalam dunia bisnis. ROI memberikan informasi tentang efektivitas investasi dan dapat membantu pengusaha dalam pengambilan keputusan bisnis.

Cara menghitung ROI cukup mudah, yaitu dengan menggunakan rumus ROI = (Keuntungan – Biaya) / Biaya x 100%. Namun tidak serta merta melihat hasil metrik ini di atas kertas, karena kita perlu mempertimbangkan kelebihan dan kekurangannya dengan seksama.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda dan dapat meningkatkan pemahaman tentang ROI dalam bisnis.