Mengenal Perbedaan Long-Tail Keyword dan Short-Tail Keyword dalam SEO

Mengenal Perbedaan Long-Tail Keyword dan Short-Tail Keyword dalam SEO

Bicara tentang keyword, kita mengenal istilah long tail keyword dan short tail keyword. Keduanya berbeda tapi punya keterkaitan yang kuat. Agar bisa mengimplementasikannya dengan efektif, penting sekali untuk blogger mengenal dengan baik keduanya.

Dua istilah ini sendiri merujuk pada praktek optimasi SEO On Page. SEO (Search Engine Optimization) merupakan salah satu bagian penting dalam strategi pemasaran digital. Kendati ada trafik berbayar (paid traffic), dengan melakukan optimasi SEO yang tepat, kita bisa menghadirkan banyak trafik organik yang penting untuk pondasi website jangka panjang.

Keyword yang Tepat Berdampak Penting untuk Kesuksesan SEO

Tips memilih keyword untuk dioptimasi

Ada banyak faktor dan komponen yang mempengaruhi kesuksesan optimasi SEO. Salah satu yang terpenting adalah menentukan keyword atau kata kunci yang tepat.

Kata kunci adalah cara mesin pencari dan pelanggan mengidentifikasi penawaran bisnis Anda. Saat ingin mencari sebuah bisnis atau layanan jasa di internet, seseorang akan mengetikkan di kotak pencarian kata kunci yang berkaitan dengan produk yang mereka butuhkan.

Misalnya saat seseorang ingin membeli ‘pompa air’, ia akan mengetik kata ‘pompa air’, atau bisa juga dengan tambahan merek, seperti ‘pompa air shimizu’, ‘pompa air sanyo’, dan seterusnya.

Jika salah menentukan kata kunci, bisa jadi pelanggan yang diperoleh tidak tepat sasaran. Atau bisa juga, karena memilih kompetisi yang terlalu ketat di keyword terpilih sedangkan authority masih minim, hasilnya menjadi semakin tidak maksimal.

Sebaliknya, dengan keyword yang tepat Anda bisa lebih mudah bertemu dengan prospek yang matang untuk penawaran Anda. Konten dan website bisa mendapatkan trafik yang diinginkan melalui penerapan long tail keyword dan short tail keyword yang tepat.

Setidaknya ada dua jenis keyword yang perlu kita ketahui, yaitu short tail keyword dan long tail keyword. Agar mantap mengenali keduanya dengan baik, mari kita definisi dari keduanya dan apa saja perbedaannya.

Apa itu Short Tail Keyword?

Short Tail Keyword adalah kata kunci singkat yang umumnya terdiri dari 1-2 kata. Kata kunci short tail sering disebut sebagai ‘head terms’. Pasalnya, kata- kata ini adalah hal yang spontan terpikirkan saat seseorang mencari sesuatu.

Dengan jumlah kata yang singkat, jenis keyword ini mempunyai tingkat persaingan yang sangat tinggi karena kata kunci ini kurang ‘spesifik’. Kendati begitu, jika berhasil memenangkan kompetisi di kata kunci pendek ini, kita bisa sangat efektif dalam mendatangkan pengunjung ke situs kita.

Beberapa contoh kata kunci pendek alias short tail keyword : 


Dari contoh di atas, kata kunci tersebut merupakan kata kunci yang sangat umum dipakai. Dan karena sangat umum, maka penggunaannya sangat banyak dan tingkat persaingan pasti sangat tinggi. Artinya, jika hanya mengandalkan short tail keyword, akan semakin sulit untuk bersaing di SERP.

Untuk itu, Anda perlu mengkombinasikan short tail ini dengan kata kunci turunan, alias long tail keyword.

Apa itu Long Tail Keyword?

Apa itu Long Tail Keyword & Cara Menggunakannya untuk Trafik SEO

Kebalikannya dari short tail keyword, ada yang namanya long tail keyword. Long tail keyword merupakan jenis keyword yang terdiri lebih dari tiga kata. Keyword yang dibidik lebih panjang, lebih spesifik, lebih tertarget, dan lebih rinci dari sekedar kata umum.

Long tail keyword sering kita sebut dengan nama keyword turunan. Keyword ini mempunyai tingkat kompetisi yang lebih rendah sehingga peluang untuk ditemukan pengguna menjadi lebih besar.

Beberapa contoh kata kunci long tail : 

  • Jasa SEO Profesional Jakarta
  • Jasa SEO Garansi Page One
  • Pompa Steam Portable Termurah


Dari contoh di atas, bisa kita lihat kalau long tail keyword lebih spesifik dan tertarget. Volume keyword dari jenis kata kunci ini tentunya lebih sedikit. Kendati begitu, dengan kompetisi yang lebih rendah kata kunci ini lebih efektif dalam mendatangkan pengunjung ke situs web Anda.

Perbedaan Long Tail Keyword dan Short Tail Keyword

Perbandingan jumlah hasil pencarian short tail vs long tail keyword

Dari pengertian dari long tail dan short tail keyword, kini saatnya merangkum perbedaan antara kedua jenis kata kunci ini.

Ciri- ciri Short Tail Keyword

1. Volumen Pencarian Lebih Tinggi

Karena lebih umum, maka volume short tail keyword lebih tinggi daripada long tail keyword. Pada prinsipnya, semakin singkat kata kunci, maka volume pencariannya semakin tinggi.

Jika berhasil unggul di kata kunci pendek ini, maka peningkatan trafik organik akan sangat terasa.

2. Tingkat Kompetisi Sangat Tinggi

Jangan senang dulu dengan volume yang tinggi. Karena secara bersamaan, hal ini juga selaras dengan tingkat kompetisi yang sangat ketat. Misalnya saat memasukkan kata kunci ‘jasa seo’, maka semua website yang menggunakan jasa SEO pasti akan bersaing di SERP.

Artinya, membutuhkan usaha yang jauh lebih keras agar laman dengan short tail ini berada di posisi teratas. Jika perlu, gunakan iklan berbayar seperti Google AdWords, untuk meningkatkan trafik dan konversi.

3. Kurang Fokus dan Kurang Tertarget

Salah satu kekurangan dari short tail keyword adalah penggunaan yang kurang fokus dan kurang tertarget. Misalnya saja saat seseorang ingin membeli smartphone dan benar- benar hanya mengetikkan kata “smartphone”.

Bayangkan, konten yang tampil akan sangat beragam. Bukan hanya hasil pencarian yang menjual smartphone, tapi juga artikel- artikel dan berita tentang smartphone. Akibatnya, konsumen menjadi terdistraksi dengan hasil yang ia temukan.

Akhirnya ia menunda atau bahkan membatalkan keinginan untuk membeli smartphone. Sangat tidak efektif ya?

4. Biaya Lebih Mahal

Dengan tingkat kompetisi yang tinggi, akan sangat menguras tenaga untuk bersaing di secara organik di jenis kata kunci ini. Untuk mendukung trafik dan konversi, pemilik website perlu menggunakan Google AdWords agar artikelnya bisa masuk ke daftar pencarian teratas.

Selain itu, biaya cenderung lebih mahal untuk penggunaan kata kunci yang sifatnya lebih umum ini.

5. Konversi Lebih Rendah

Dengan tingkat persaingan yang ketat, kata kunci pendek cenderung menghasilkan konversi yang lebih rendah. Jadi meskipun trafik tinggi, hal ini tidak menjamin setiap kunjungan menghasilkan konversi transaksi.

Ciri- Ciri Long Tail Keyword

1. Volume Pencarian Lebih Rendah

Volume pencarian long tail keyword lebih rendah daripada short tail keyword. Seringkali perusahaan merasa kalau ini menjadi kurang menguntungkan untuk mereka. Padahal, saat pengguna mencari info yang lebih spesifik, long tail bisa menghasilkan trafik kunjungan yang efektif.

Selain itu, untuk pebisnis yang menjual produk tertentu, penggunaan kata kunci turunan justru bisa menguntungkan. Konsumen yang secara spesifik mengetahui apa yang mereka butuhkan akan mengetik kata kunci secara spesifik. Dengan begitu, konsumen yang matang cenderung menyukai konten dengan long tail keyword.

2. Tingkat Kompetisi yang Rendah

Seperti yang Panda sebutkan di atas, kata kunci turunan mempunyai tingkat kompetisi yang lebih rendah. Semakin spesifik kata kunci yang digunakan, maka semakin sedikit pebisnis yang menggunakan kata kunci itu.

Dengan begitu, hasil pencarian semakin sedikit dan kompetisi semakin minim. Kemungkinan untuk pelanggan menemukan bisnis Anda menjadi semakin besar.

3. Lebih Fokus dan Lebih Tertarget

Kata kunci yang spesifik akan menghasilkan tingkat fokus yang lebih tinggi dan lebih tertarget. Misalnya saat calon konsumen mengetik ‘kursi jati belanda minimalis’, ia akan diarahkan ke hasil pencarian yang memuat long tail ini.

Dengan penggunaan kata kunci yang spesifik, maka hasilnya pun akan lebih tertarget.

4. Biaya yang Lebih Rendah

Salah satu manfaat dari penggunaan long tail keyword adalah biaya iklan yang lebih rendah. Untuk pencarian yang spesifik tadi, Google AdWords cenderung menetapkan biaya yang lebih murah.

Untuk bisnis dengan skala lebih kecil, tentu akan lebih mudah untuk mengatur pengeluaran dan mengontrol ROAS (Return on Ads Spend).

5. Konversi Lebih Tinggi

Dengan biaya iklan yang lebih terkontrol, penggunaan keyword turunan juga lebih memaksimalkan tingkat konversi di website. Dengan konversi yang lebih tinggi, tentu saja keuntungan perusahaan menjadi lebih optimal.

Berdasarkan informasi di atas, maka perbedaan long tail keyword dan short tail keyword dapat kita kelompokkan seperti berikut ini : 

PerbedaanShort Tail KeywordLong Tail Keyword
Volume PencarianTinggiRendah
Tingkat KompetisiTinggiRendah
FokusRendahTinggi
BiayaTinggiRendah
Tingkat KonversiRendahTinggi

Tips Menentukan Keyword yang Tepat

Long tail keyword dan short tail keyword dapat digunakan secara bersamaan dan saling melengkapi. Untuk penerapannya sendiri, sobat Panda bisa mengawalinya dengan melakukan riset keyword.

Selain itu, ada beberapa tips yang dapat Anda implementasikan untuk menentukan keyword yang tepat untuk konten Anda : 

1. Sesuaikan dengan Produk dan Layanan Brand

Langkah pertama untuk menentukan keyword yang akan digunakan adalah dengan membuatnya relevan. Untuk menjadi relevan, Anda perlu menyesuaikan keyword dengan produk dan layanan brand Anda.

Misalnya jika bisnis Anda menjual ‘kursi jati’, maka Anda bisa menggunakan keyword ini sebagai dasar, alias kata kunci short tail pertama Anda.

2. Riset Kompetitor

Lakukanlah riset kompetitor yang menyeluruh. Dapatkan informasi tentang judul yang digunakan oleh kompetitor, sub judul, keyword yang banyak mereka gunakan dan yang lainnya. Berbekal informasi ini, Anda bisa mendapatkan ide untuk menentukan keyword yang tepat. 

3. Manfaatkan Sub Judul

Jika situs Anda sudah mempunyai sub judul, Anda bisa menggunakan highlight sub judul tersebut sebagai keyword. Dengan praktik ini, Anda bisa membantu situs Anda agar lebih cepat terindeks.

4. Kata Kunci Lokasi

Jika bisnis Anda berada di lokasi tertentu, Anda bisa menargetkan pengguna lokal dengan menambahkan kata kunci lokasi. Misalnya Anda menjual bunga berbasis di kota Jakarta, Anda bisa menambahkan kata kunci ‘toko bunga Jakarta’.

Dengan tips ini, Anda bisa menargetkan pengguna yang secara spesifik menelusuri toko bunga di area kota Jakarta.

5. Kata Kunci Informasional

Seringkali orang yang mencari sebuah produk atau layanan tidak langsung berniat membeli. Mereka mencari informasi lebih lanjut yang membantu mereka untuk mempertimbangkan lebih lanjut.

Untuk jenis audiens ini, Anda perlu membantu mereka mendapatkan informasi lebih lanjut tentang produk. Posisikan diri Anda sebagai pencari produk, kira- kira informasi apa saja yang Anda cari tentang produk? Informasi seperti apa yang membuat Anda yakin dan memutuskan membeli?

List pertanyaan ini dapat Anda gunakan sebagai kata kunci turunan yang efektif. Selanjutnya, buat konten yang menarik dan siapkan CTA (Call to Action) yang mendorong calon pelanggan untuk membuat keputusan pembelian.

Kesimpulan

Dalam SEO, ada beberapa upaya yang bisa kita terapkan agar konten kita menjadi optimal. Salah satu yang utama dan menjadi fondasi adalah penggunaan kata kunci yang efektif.

Penggunaan kata kunci yang substansial akan sangat berdampak dalam menghasilkan lalu lintas dan visibilitas di hasil pencarian. Dalam prakteknya, kita bisa menerapkan long tail dan short tail keyword, atau memadukan keduanya.

Pasalnya, kedua jenis keyword inib berbeda, namun punya keterikatan yang kuat. Dengan menentukan kombinasi kata kunci yang tepat, laman yang kita buat akan menjadi lebih optimal dalam mendatangkan pengunjung.

Semoga bermanfaat!

5+ Tool Terbaik untuk Cek Domain Authority (DA) dan Page Authority (PA)

5+ Tool Terbaik untuk Cek Domain Authority (DA) dan Page Authority (PA)

Salah satu parameter untuk mengetahui performa sebuah website saat ini adalah dengan mengetahui skor Domain Authority (DA) dan Page Authority (PA). Sejak Google Pagerank sudah tidak terupdate sejak beberapa tahun, PA & DA ini lah yang menjadi indikator penting untuk performa sebuah situs web di mesin pencari.

Baik Domain Authority maupun Page Authority, keduanya mempunya skor antara 0-100. Parameter ini sendiri adalah metrik website yang dikembangkan oleh Moz. Dengan authority yang baik, sebuah website akan mempunyai ranking yang baik di mesin pencari.

Domain Authority vs Page Authority, Apa Bedanya?

Familiar dengan dua istilah ini?

Meski terdengar mirip, Domain Authority dan Page Authority adalah dua hal yang berbeda.

Domain Authority memberikan gambaran kekuatan sebuah website secara keseluruhan karena berorientasi pada kekuatan domain. Kebalikannya, Page Authority memberikan prediksi terhadap kekuatan sebuah halaman secara individual.

Keduanya merupakan parameter penting dalam SEO. Pasalnya, sejak ketiadaan page rank, perlu adanya sebuah metrik untuk mengukur performa website secara khusus. Dan inilah fungsi yang Domain Authority dan Page Authority lakukan sekarang ini.

Cara Cek Skor Domain Authority dan Page Authority

Yang sering terabaikan, tidak sedikit webmaster yang tidak memeriksa Domain Authority mereka secara berkala. Tidak jarang, mereka juga tidak tahu tentang skor DA situs web mereka. Banyak juga pemula yang mungkin tidak mengetahui cara cek domain authority secara gratis.

Padahal, ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk secara mudah mengetahui skor Domain Authority dan Page Authority website kita. Dengan mengetahuinya, kita akan termotivasi untuk bergerak lebih jauh lagi dalam meningkatkan performa SEO website kita secara keseluruhan.

1. Bulk DA PA Checker Tool by GUESTPOSTLINKS

Alat Pemeriksa DA PA Massal GUESTPOSTLINKS – solusi efektif dan efisien yang dirancang untuk pengguna yang ingin menilai otoritas domain dalam skala besar. Alat ini sangat berguna bagi perusahaan SEO, agensi, dan klien langsung yang ingin mengevaluasi domain dan otoritas halaman beberapa situs web secara bersamaan. Ini terbukti sangat bermanfaat bagi individu dengan keahlian SEO atau tim SEO internal yang ingin meningkatkan peringkat mesin pencari situs web mereka.

2. Open Site Explorer dari Moz

Open Site Explorer adalah tool keren yang dikembangkan oleh MOZ untuk para internet marketer. Banyak para pakar SEO yang menyebut kalau tool ini merupakan salah satu tool SEO wajib untuk para webmaster. Dengan tool ini, Anda bisa men- cek skore Domain Authority dan Page Authority website Anda dengan sangat mudah.

Open Site Explores menyediakan detail informasi tentang profil dari sebuah website. Salah satu fitur yang sangat membantu adalah Anda bisa melihat tautan masuk ke root domain, subdomain, dan laman Anda.

Jika Anda menggunakan free account, Anda bisa melihat jumlah tautan masuk ini hingga 10. Namun jika Anda ingin mendapatkan laporan yang lebih lengkap dan banyak insight, Panda menyarankan untuk upgrade akun Anda ke versi Moz Pro. Dengan Moz Pro, Anda bisa mendapatkan laporan dalam versi lebih detail, dan bahkan masuk ke akses metrik lainnya yang lebih premium. Jika tertarik untuk mencobanya, Anda bisa memulainya dengan uji coba gratis selama 30 hari.

3. Prepostseo

Prepostseo menyediakan tool DA PA checker terbaik untuk mengetahui otoritas domain dan otoritas laman web Anda. Bukan sekedar mengecek DA PA saja, tapi juga bisa memberikan info spam score dan alamat IP.
Prepostseo tersedia dalam versi gratis dan berbayar. Dengan versi gratis, Anda bisa melakukan pengecekan hingga 10 situs sekaligus atau 25 situs sekaligus jika mendaftar membership di website.

Sedangkan untuk versi premium, Anda bisa melakukan pengecekan hingga 500 situs web sekaligus dalam satu pencarian. Tertarik untuk mencobanya?

4. Website Authority Check dari SEO Review Tools

Dengan Website Authority Checker dari SEO Review Tools, Anda bisa melakukan pengecekan terhadap DA dan PA website Anda dengan mudah dan benar- benar gratis. Alat ini juga memungkinkan Anda untuk mengetahui usia sebuah website dan jumlah tautan eksternal yang mengarah ke domain dan halaman Anda.

Tool ini sendiri sebenarnya menggunkaan API Mozscape dalam meng-generata analisa website, dan hasilnya dapat Anda ekspor dalam format .csv. Selain sebagai PA & DA checker, Anda juga bisa menggunakan tool ini untuk melakukan analisa konten dan akun media sosial Anda.

5. Bulk DA Checker

Sama persis sesuai Namanya, tool ini memungkinkan Anda untuk melakukan pengecekan Domain Authority dan Page Authority secara massal dalam waktu bersamaan. Dalam satu waktu, domain yang dapat Anda cek berjumlah hingga 10 URL. Tool ini sangat cocok Anda gunakan jika mempunyai beberapa domain dan ingin menghemat waktu dalam melakukan checking rutin skor DA & PA website Anda.

Untuk menggunakannya, Anda dapat memasukan beberapa URL (satu barus per URL) dan klik tombol ‘Find Moz Metrics’. Setelah itu, Bulk DA Checker akan menampilkan hasil DA, PA, MozRank, dan jumlah eksternal link yang dimiliki sebuah website.

Selain melakukan pengecekan PA dan DA, Anda juga bisa menggunakan tool ini untuk mengecek skor Alexa Rank secara massal, domain unik, dan lain sebagainya.

6. Bulk DA, PA, & IP Checker dari SEO Weather

Mirip dengan Bulk DA Checker, tool yang satu ini juga memungkinkan pengguna untuk melakukan pengecekan domain authority (DA), page authority (PA), dan IP address dari banyak domain sekaligus. Yang harus Anda lakukan adalah memasukan daftar domain (satu baris per domain), dan klik ‘Go Fetch’.

Selanjutnya, Anda dapat melihat langsung performa domain yang Anda masukan atau men-downloadnya data tersebut dengan mengekspornya ke Excel.

7. Domain Authority Checker dari Small SEO Tools

Tool terbaik lainnya untuk menge-cek domain authority dan page authority secara gratis hingga sebanyak 50 domain dalam sekali pengecekan. Meskipun jumlah domain yang di-cek bisa hingga 50 URL, namun penggunaan tool ini sangatlah mudah dan benar- benar gratis.

Selain untuk mengetahui skor DA dan PA website, Small SEO Tools juga menyediakan berbagai SEO tool lainnya yang sayang untuk dilewatkan, seperti tool untuk cek backlink, posisi keyword, SEO score, reverse image, dan masih banyak lagi.

Kesimpulan

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengecek skor domain authority (DA) dan page authority (PA) kita, seperti dengan deretan tool gratis di atas yang sangat mudah kita gunakan. Dengan melakukan pengecekan secara regular, Anda akan semakin bersemangat dalam melakukan optimasi yang semakin membuat performa situs web Anda meningkat di mesin pencari.

Selamat mencoba!

Panduan Lengkap : Apa itu .htaccess, Fungsi, dan Cara Kerjanya

Panduan Lengkap : Apa itu .htaccess, Fungsi, dan Cara Kerjanya

Untuk para webmaster, apa itu .htaccess tentu bukan sesuatu yang asing. .htaccess adalah file penting yang perlu kita pahami dalam proses pengelolaan website. File ini sangat multifungsi saat memahami proses konfigurasinya.

.htaccess bisa kita manfaatkan untuk memblokir alamat IP tertentu hingga melindungi file dan kata sandi. Di artikel kali ini, Panda akan mengulas secara lengkap tentang apa itu .htaccess dan panduan untuk menggunakan file ini.

Apa itu .htaccess?

.htaccess adalah file konfigurasi yang digunakan pada server web Apache. File ini mempunyai kemampuan untuk mengontrol konfigurasi dan aturan akses ke dalam direktori atau file pada website yang berada di server Apache.

.htaccess sendiri berasal dari kata “hypertext access”. Kata “hypertext” sendiri merujuk pada struktur website yang terdiri dari tautan antar halaman web.

File hypertext access ini adalah jenis file sederhana dalam bentuk file text dengan format ASCII. File ini bisa terletak di bagian mana saja di folder website. Penggunaan file .htaccess bisa membantu developer untuk mengontrol dan memanipulasi perilaku server Apache sesuai dengan kebutuhan situs web.

Dalam pengertian yang lebih sederhana, .htaccess adalah file konfigurasi yang digunakan untuk mengubah perilaku web server Apache. Hal ini termasuk mengubah pengaturan akses, melakukan redirect URL, mengkonfigurasi MIME types, dan banyak lagi.

File ini berfungsi sebagai pengatur akses dalam level direktori dan file tertentu di situs web. Dengan begitu, penggunaan .htaccess memungkinkan pengguna untuk menentukan batasan akses atau mengalihkan lalu lintas ke laman web tertentu.

Fungsi dan Manfaat .htaccess

Ada banyak fungsi dari file hypertext access yang sangat membantu proses pengelolaan website. Apa saja? Antara lain sebagai berikut : 

1. Mengatur Akses dan Melindungi Direktori

Fungsi utama dari .htaccess adalah mengatur akses ke direktori tertentu di server web. Dengan pengaturan di file ini, pengguna bisa membuat batasan akses tertentu pada direktori dan file.

Tentunya hal ini sangat berguna untuk melindungi file sensitif dan mencegah akses tidak sah ke website.

2. Redirect URL

Ilustrasi redirect website

Redirect atau pengalihan adalah teknik untuk mengalihkan pengunjung website ke alamat URL yang berbeda dari tujuan awal. Melalui pengaturan redirection lewat .htaccess, webmaster bisa mengalihkan orang yang mengklik URL asli ke laman tujuan berbeda sesuai pengaturan redirection.

Redirect sendiri bermanfaat untuk menghindari broken link dan memperbaiki kesalahan penulisan URL.

3. Konfigurasi Custom Error Pages

File hypertext access juga bisa kita gunakan untuk mengkonfigurasi halaman kesalahan customer di website. Jika tanpa konfigurasi maka lama error akan memperlihatkan kode error saja, misalnya Error 404 atau Internal Server Error-500.

Namun dengan .htaccess, sobat Panda bisa membantu pengguna untuk memperbaiki masalah dan menampilkan pesan error yang lebih informatif pada pengunjung website.

4. Modifikasi Header & Manipulasi Rewrite Rules

Selanjutnya, .htaccess juga bisa kita gunakan untuk memodifikasi header HTTP di server web. Dengan modifikasi ini, pengguna bisa lebih meningkatkan keamanan dan kinerja situs web.

Selain itu, hypertext access juga bisa memanipulasi rewrite rules di server web yang bisa mengubah atau memanipulasi URL di situs web. Lagi- lagi, hal ini bisa user gunakan untuk meningkatkan keamanan dan kinerja situs.

Cara Membuat File .htaccess Default

Setelah mengetahui fungsi dan manfaat dari .htaccess, langkah selanjutnya adalah mengetahui cara membuat file hypertext access ini. Sebelum membuat file ini, pastikan sobat Panda membuat backup dari situs terlebih dahulu untuk keamanan.

Ada dua cara yang bisa kita gunakan untuk membuat file .htaccess baru, yaitu melalui File Manager dan FTP Klien.

1. Membuat .htaccess lewat File Manager

  • Login ke cPanel hosting dan buka File Manager, lalu pilih public_html di direktori root situs.
    .htaccess di Cpanel
  • Klik pilihan New File atau + file di menu navigasi.
  • Beri nama file tersebut .htaccess dan masukkan snippet kode berikut ini jika menggunakan WordPress.
# BEGIN WordPress

RewriteEngine On
RewriteRule .* – [E=HTTP_AUTHORIZATION:%{HTTP:Authorization}]
RewriteBase /
RewriteRule ^index\.php$ – [L]
RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-f
RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-d
RewriteRule . /index.php [L]

# END WordPress
  • Tekan tombol Save & Close untuk menyimpan file hypertext sobat Panda.

2. Membuat .htaccess lewat FTP Klien

Jika sobat Panda inging menggunakan FTP Client untuk membuat hypertext access, Anda bisa membuat file berisi kode snippet default di atas lewat program text editor. Selanjutnya, unggah file tersebut ke website dengan cara berikut : 

  • Buka FileZilla dan hubungkan ke web server.
  • Setelah terhubung, bukan panel Remote Site di sisi kanan dan temukan public_html direktori root situs.
  • Buka panel Local Site di sisi kiri dan akses komputer untuk mengunggah file text editor yang dibuat sebelumnya.
  • Klik kanan di file tersebut, lalu pilih Upload.
  • Tunggu sampai file berhasil terunggah ke direktori situs.

Cara Menggunakan .htaccess di Website

Selain membuat file hypertext dengan script default, ada beberapa script penting yang perlu Anda ketahui dan bisa terapkan untuk website. 

1. Redirect ke Direktori Lain

Script ini berguna untuk mengalihkan direktori saat ada pengguna yang mengakses. Jika ada yang mengakses, pengguna akan dialihkan ke direktori atau laman yang sesuai.

<IfModule mod_rewrite.c>
RewriteEngine On
RewriteRule ^sub_directory/(.*)$ /$1 [R=301,NC,L]
</IfModule>

2. Set Local Zone

Set Local Zone adalah script yang wajib Anda tambahkan di .htaccess, terutama jika menggunakan cronjob untuk melakukan perintah. Dengan script ini, cronjob dapat mengetahui waktu server.

Script yang bisa Anda tambahkan adalah sebagai berikut : 

php _value date.timezone Asia/Jakarta

Script ini menggunakan contoh zona waktu Asia/Jakarta. Sobat Panda bisa menggantinya sesuai dengan Region/City sesuai kebutuhan.

3. Disallow All Search Engine

Persis namanya, script ini bisa Anda gunakan jika tidak ingin laman ini diakses publik melalui mesin pencari. Agar tidak terindeks oleh bot crawl Google atau mesin pencari lain, Anda bisa menambahkan script sebagai berikut : 

RewriteEngine On
RewriteCond %{HTTP_USER_AGENT} ^.*(Googlebot|Bingbot|Baiduspider).*$ [NC]
RewriteRule .* - [F,L]

4. HTTPS Redirect

Untuk menggunakan protokol HTTPS, sobat Panda perlu menginstal SSL di website. Peran HTTPS sendiri sangat penting karena menjadi jaminan keamanan transfer data pengguna dan mengoptimalkan SEO website.

Script yang bisa Anda gunakan adalah sebagai berikut : 

RewriteEngine On
RewriteCond %{HTTPS} off
RewriteRule ^(.*)$ https://%{HTTP_HOST}%{REQUEST_URI} [L,R=301]

5. Domain Redirect

Jika script nomer di atas digunakan untuk melakukan pengalihan protokol HTTPS, Anda bisa menggunakan script yang berbeda untuk mengalihkan pengunjung ke domain yang berbeda. Ini mungkin terjadi saat Anda mengubah nama domain atau alamat website secara permanen.

RewriteEngine on
RewriteCond %{HTTP_HOST} ^domainanda.com [NC,OR]
RewriteCond %{HTTP_HOST} ^www.domainanda.com [NC]
RewriteRule ^(.*)$ http://domainbaru.com/$1 [L,R=301,NC]

Atau bisa juga menggunakan script yang lebih sederhana berikut :

Redirect 301 /home/html/web/index.html https://www.domainbaru.com/home.html

6. Menjaga Akses File .htaccess

Agar pengunjung tidak iseng melihat dan menemukan file hypertext access website, Anda bisa melindungi file .htaccess ini sendiri dengan script perintah berikut :

<Files .htaccess>
order allow,deny
deny from all
</Files>

7. Mencegah Hotlinking

Hotlinking adalah cara memberikan rujukan link secara langsung pada non-object HTML ke server lain, seperti gambar, video, dan lainnya.

Saat ada website lain yang menggunakan berbagai gambar di laman web kita sebagai hotlink mereka, hal ini bisa berdampak pada berkurangnya bandwidth kita. Agar ini tidak terjadi, ada bisa menambahkan script hotlink protection berikut ini :

RewriteEngine on
RewriteCond %{HTTP_REFERER} !^$
RewriteCond %{HTTP_REFERER} !^http://(www\.)example.com/.*$ [NC]
RewriteRule \.(gif|jpg|jpeg|bmp|zip|rar|mp3|flv|swf|xml|php|png|css|pdf)$ - [F]

Kesimpulan

Meski terlihat seperti file sederhana, sejatinya .htaccess atau hypertext access merupakan file penting untuk pemilik website di server web Apache.

File ini membantu webmaster dalam mengoptimalkan kinerja situs web dan meningkatkan keamanannya. Dengan file ini juga, developer dan administrator server web dapat mengelola dan mengatur perilaku server web Apache dengan praktis.

Sudahkah Anda memanfaatkan konfigurasi .htaccess sesuai dengan kebutuhan web Anda? Semoga bermanfaat!

Apa itu Long Tail Keyword & Cara Menggunakannya untuk Trafik SEO

Apa itu Long Tail Keyword & Cara Menggunakannya untuk Trafik SEO

Long Tail Keyword sering menjadi senjata ampuh para webmaster untuk bisa bersaing dengan optimal di hasil pencarian. Berbeda dengan short tail keyword yang tingkat kompetisinya lebih gila, tingkat kompetisi kata kunci long tail cenderung lebih kompetitif dan rendah.

Strategi long tail ini sendiri kerap para webmaster manfaatkan saat harus bersaing dengan website berkata kunci volume tinggi di hasil pencarian. Jika hanya mengandalkan short tail keyword saja akan sulit mendapatkan trafik, maka long tail akan menjadi penyangga ampuh untuk mengoptimalkannya.

Di artikel kali ini, Panda akan mengulas secara mendalam tentang apa itu long tail keyword, manfaat dan cara mengoptimalkannya dalam SEO. Mari kita simak bersama- sama!

Apa itu Long Tail Keyword?

Contoh google autocomple untuk keyword kacamata baca

Long tail keyword merupakan jenis kata kunci turunan yang lebih spesifik karena berisi penjabaran atau detail dari keyword utama yang dibidik.

Jenis kata kunci ini biasanya terdiri dari tiga sampai lima kata. Keyword biasanya akan menambahkan atribusi tertentu yang berkaitan dengan kata kunci utama. Misalnya saja profesional, terbaik, murah atau atribusi fungsi produk.

Dengan persaingan kata kunci utama yang biasanya sangat tinggi volume nya, penggunaan kata kunci turunan akan menghasilkan persaingan yang lebih rendah ke menengah karena sifatnya spesifik.

Meskipun volume pencarian rendah, jenis kata kunci ini lebih tepat sasaran karena memuat atribusi sesuai kebutuhan pencari. Hasil pencarian akan benar- benar sesuai dengan kebutuhan pengguna. Bukan hasil pencarian umum dari sebuah topik atau produk.

Mengenal Karakteristik Long Tail Keyword

Setelah mengetahui pengertian dari long tail keyword atau keyword turunan, langkah selanjutnya adalah mengenali karakteristik dari jenis keyword ini :

Terdiri dari Beberapa Kata (3-5 Kata)

Bukan berarti semua kata kunci yang terdiri dari beberapa kata termasuk ke dalam kategori long tail. Namun, karena memuat atribusi tambahan atau info spesifik, jenis long tail akan terlihat sebagai kata kunci yang agak panjang.

Long tail keyword terdiri dari beberapa kata untuk mendeskripsikan maksud spesifik dari kata kunci tersebut.

Volume Pencarian Rendah

Secara teknis, kata kunci ini tidak sepopuler kata kunci utama. Atribusi tambahan membuat jumlah pencarian kata kunci turunan menjadi lebih rendah. Dengan volume pencarian rendah sehingga persaingan kata kunci nya pun cenderung rendah sampai medium.

Contoh Short Tail Keyword vs Long Tail Keyword

Sebagai contoh, saat kita membidik kata kunci “kacamata baca” dengan mengandalkan kata kunci ini saja. Tingkat persaingannya jauh lebih tinggi karena kata- kata ini bersifat umum.

Sebaliknya, jika membidik kata kunci yang lebih spesifik dan tetap relevan dengan keyword utama produk, kita bisa menggunakan kata kunci “kacamata baca plus anti radiasi” atau embel- embel lainnya.

Contoh lain dari penggunaan short tail vs long tail keyword sebagai berikut :

  • Baju hamil vs (baju hamil kerja, baju hamil kantor, baju hamil muslim, baju hamil perawat, baju hamil rumahan)
  • Jasa SEO vs (Jasa SEO garansi, jasa SEO murah, jasa SEO profesional, jasa SEO halaman 1 google)
  • Wawancara kerja vs (tips wawancara kerja, pertanyaan wawancara kerja, wawancara kerja fresh graduate)

Manfaat & Tujuan Menggunakan Long Tail Keyword

Tentu saja kita tetap melakukan optimasi keyword utama dalam konten kita. Karena penggunaan keyword utama ini sendiri mempermudah dalam pencarian dan indexing konten. Namun, long tail keyword juga dapat kita optimalkan untuk mengoptimalkan potensi trafik ke website.

Selain itu, dari sisi manfaat dan tujuan, berikut adalah alasan untuk menggunakan long tail keyword :

1. Tingkat Persaingan Rendah

Sebagai contohnya, mari kita lihat perbedaan penggunaan keyword “jasa SEO” dan “jasa SEO profesional” berikut ini :

Perbandingan jumlah hasil pencarian short tail vs long tail keyword

Hanya menggunakan keyword utama saja, website kita harus bersaing dengan 9,3 juta website lainnya. Sebaliknya, saat menyertakan long tail dan kata kunci ini digunakan pengguna, kita bersaing dengan 1,5 juta website. Jumlah yang lebih sedikit.

Artinya, dengan kata kunci long tail kita akan lebih mudah mendapatkan peringkat yang baik di hasil pencarian Google.

2. Mendatangkan Banyak Trafik

Karena tingkat persaingan yang lebih kecil, penggunaan keyword turunan juga bisa mendatangkan banyak trafik organik. Pasalnya, website kita tidak hanya bergantung pada satu kunci utama dari topik, melainkan banyak kata kunci yang saling berkaitan.

Efeknya, dalam keyword yang berbeda- beda, konten kita bisa muncul maksimal di setiap hasil pencarian sesuai keyword turunan. Bukan hanya sekali saja karena bergantung pada satu keyword utama.

3. Mendorong Peringkat untuk Short Tail Keyword

Karena bersifat turunan dari kata kunci utama, long time keyword menyertakan kata kunci utama dan turut mengoptimalkannya. Dengan begitu, lebih mudah untuk mencapai dua tujuan sekaligus. Yaitu untuk membuat dua keyword ini mempunyai performa maksimal di hasil pencarian.

Saat keduanya mempunyai performa baik, lalu lintas organik akan semakin baik pula.

4. Meningkatkan Conversion Rate

Karena bersifat spesifik, pengguna dari jenis keyword ini merupakan kelompok audiens yang sudah lebih siap untuk melakukan pembelian. Hal ini berkebalikan dari pengguna short tail keyword yang cenderung mencari informasi general.

Contohnya adalah kata kunci utama “web hosting”. Saat orang menggunakan kata kunci itu, hasilnya akan sangat general dan kemungkinan tujuan pencarian infonya juga sangat general. Mungkin sekedar ingin tahu apa itu hosting dan cara kerjanya.

Berbeda dengan orang- orang yang menggunakan kata kunci “Hosting terbaik Indonesia”. Kelompok ini kemungkinan sedang mencari tahu perbandingan spek layanan hosting dan siap untuk melakukan pembelian dalam waktu dekat.

Cara Mencari Long Tail Keyword

Kita bisa menemukan long tail keyword ini dengan beberapa alat bantuan untuk riset keyword. Dengan begitu kita akan mendapatkan kata turunan yang menjadi ide konten, sekaligus menganalisa persaingan dan jumlah pencariannya.

Berikut adalah beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mencari kata kunci long tail :

1. Gunakan Google Autocomplete

Contoh google autocomple untuk keyword kacamata baca

Google Autocomplete adalah fitur suggestion dari Google saat kita hendak mengetikkan keyword di search bar Google. Suggestion ini sendiri berasal dari long tail keyword yang sering orang- orang cari di Google.

Dengan mengandalkan suggestion ini, kita bisa menggunakan kata kunci turunan yang terbukti efektif dan relevan dengan pencarian pengguna. Bagaimana cara menggunakannya?

Cukup dengan memasukkan kata kunci utama dan ikuti dengan spasi, maka suggestion pun akan muncul.

2. Manfaatkan Penelusuran Terkait

Selau Google Autocomplete, selanjutnya kita juga bisa memanfaatkan fitur Penelusuran terkait dari Google.

Cara penggunaannya pun sangat mudah. Kita hanya perlu memasukkan keyword pencarian, kemudian scroll ke bawah dan melihat rekomendasi penelusuran terkait dari Google. Dan taraaa…. Anda bisa memanfaatkan informasi ini untuk membuat keyword turunan sesuai kebutuhan.

3. Menggunakan Answer The Public

Salah satu hasil riset Answer the Public

Situs answerthepublic.com memang tidak tersedia dalam bahasa Indonesia. Kendati begitu, saat kita memasukkan keyword bahasa Indonesia, tool ini secara otomatis menyajikan suggestion long tail keyword sesuai dengan bahasa pencarian.

Suggestion yang muncul ini berdasarkan kata- kata yang sering pengguna cari di mesin pencari dan tampil dengan format 5W+1H (What, Where, When, Why, Who, dan How). Dengan begitu, suggestion ini akan memberikan banyak ide untuk menciptakan long tail keyword sesuai kebutuhan.

4. Gunakan Soovle

Soovle untuk mencari long tail keyword

Soovle merupakan situs yang berfungsi menyajikan rekomendasi kata kunci dari beberapa situs populer, seperti Google, Bing, Yahoo, Amazon, Wikipedia, Answer.com, dan YouTube.

Untuk menggunakan tool ini, kita hanya perlu memasukkan kata kunci utama di search bar. Setelah itu, Soovle akan menyajikan hasil rekomendasi kata kunci dari beberapa situs populer.

Kesimpulan dan Penutup

Ringkasnya, long tail keyword merupakan salah satu trik sederhana namun efektif dalam mengoptimalkan trafik organik. Karena dengan memanfaatkan jenis keyword ini, kita memanfaatkan kata kunci utama sekaligus turunan agar keduanya saling menyokong dan tampil optimal di hasil pencarian.

Ada beberapa cara yang bisa kita gunakan untuk mencari atau mendapat ide keyword turunan ini. Mulai dari cara yang sederhana yang sudah sangat familiar untuk kita semua, hingga menggunakan bantuan tool web.

Long tail keyword sendiri mempunyai volume pencarian yang rendah. Dengan begitu, tingkat persaingan pun cenderung lebih mudah kita tembus. Saat memanfaatkanya dengan tepat, kita bisa mendapatkan trafik melimpah dari penggunaan keyword ini.

Selamat mencoba!

Mengenal Redirect & Jenis- jenisnya dalam Website

Mengenal Redirect & Jenis- jenisnya dalam Website

Redirect atau pengalihan merupakan salah satu tindakan yang cukup familiar untuk para webmaster. Tindakan ini sering webmaster gunakan saat perlu melakukan pengalihan dari satu alamat ke alamat yang lain.

Dalam definisi dari bahasa Inggris sendiri, redirect berarti “mengalihkan jurusan”. Sebagai webmaster, mungkin Anda pernah ingin mengubah alamat website atau URL karena alasan tertentu?

Jika iya, artinya Anda sudah pernah melakukan setting redirect ini. Pengalihan ini bisa dilakukan dari satu halaman ke halaman lain, baik dalam satu website atau ke website lainnya. Pengalihan juga bisa bersifat sementara karena halaman sedang dalam proses maintenance, dan bisa juga secara permanen.

Artikel Panda kali akan mengulas tentang apa itu redirect secara general dalam hal website dan SEO. Mari kita simak bersama!

Apa itu Redirect?

Pengertian dari Redirect (Pengalihan) adalah teknik yang digunakan untuk mengarahkan pengunjung website ke alamat URL yang berbeda dari tujuan awal. Saat sebuah alamat di-setting untuk redirection, maka orang yang mengklik ke URL asli tersebut akan beralih ke halaman yang berbeda sesuai dengan setting redirection tersebut.

Seiring dengan berjalannya waktu, website Anda mungkin tumbuh menjadi lebih kompleks. Ada beberapa perubahan yang mendorong Anda membuat pengalihan ini. Misalnya saja keputusan untuk menghapus beberapa halaman, penyederhanaan struktur URL, beralih domain tanpa mengubah isinya sama sekali, dan lain sebagainya.

Alih- alih membuat pengunjung mendapatkan pesan error 401, mengarahkan mereka ke halaman pengalihan tentu opsi yang lebih baik. Tentunya dengan pertimbangan halaman pengalihan ini cukup mengakomodir apa yang pelanggan cari.

Alasan dan Manfaat Melakukan Redirect

Ilustrasi redirect website

Seperti yang Panda ungkapkan sebelumnya, ada beberapa alasan mengapa webmaster memutuskan melakukan pengalihan. Berikut adalah alasan dan manfaat melakukan redirect :

1. Nama Domain Serupa

Ini kerap dilakukan oleh brand- brand besar untuk melindungi pengunjung mereka. Contoh kasusnya, pengunjung mungkin saja salah mengetikkan url website. Misalnya seharusnya facebook.com, tapi mengetik facbook.com.

Dengan sigap Facebook membuat pengalihan situs facbook.com ke domain facebook.com untuk memastikan pengunjung masuk ke laman web yang tepat.  Pengunjung tidak akan salah arah.

Kasus lain yang sering terjadi adalah membeli ekstensi domain yang berbeda dan membuat pengalihan ke salah satu ekstensi domain tujuan. Misalnya saja alamat example.net dan example.id, dibuat redirect ke satu domain seperti example.com.

Contoh kasus yang kedua biasanya bertujuan untuk ‘mencadangkan’ domain TLD yang menjadi aset bisnis, sekaligus menghindari oknum yang bisa memanfaatkan domain serupa ini untuk hal yang tidak bertanggungjawab.

2. Pemilik Website Pindah Domain Baru

Ada beberapa alasan mengapa seseorang mengalihkan website mereka ke domain baru :

  • Rebranding nama domain (Mengubah nama domain sepenuhnya)
  • Memindahkan halaman masing- masing ke domain baru.
  • Menggabungkan dua situs sekaligus.

Dengan pengalihan ini, tautan masuk ke website dengan URL yang kadaluarsa bisa dikirim ke lokasi yang benar. Tautan ini mungkin berasal dari situs lain yang belum menyadari tentang adanya perubahan atau bookmark yang tersimpan oleh pengguna di browser mereka.

Hal ini juga berlaku di mesin pencari. Tautan yang lawas kemungkinan masih tersimpan di crawling mereka dan bisa menyajikannya di hasil pencarian pengguna. Dengan menggunakan pengalihan permanen ke URL baru, pemilik website tidak akan kehilangan pengunjung.

3. Membuat URL Menjadi Lebih Pendek

Salah satu fungsi utama layanan redirect URL adalah untuk mempersingkat URL itu sendiri. Seringkali aplikasi web menyertakan kueri besar yang mewakili hierarki data, struktur perintah, jalur transaksi dan informasi sehingga menghasilkan URL yang panjang.

Dengan melakukan setting redirect, pengguna akan beralih dari URL yang panjang ke URL yang lebih ringkas dan sederhana.

4. Perubahan URL

Terkadang pemilik website juga melakukan pengalihan URL halaman meskipun isinya tetap sama. Pengalihan ini bisa dipicu karena pemilik website salah/ typo dalam menyusun kata- kata di URL nya.

Contoh nya saja, Panda pernah melakukan redirect dari alamat https://pandagila.com/memperecpat-loading-website/  ke https://pandagila.com/mempercepat-loading-website/.

URL alamat pertama terjadi typo dan Panda ingin memperbaikinya. Dengan begitu, pengunjung yang sebelumnya sudah bookmark URL tersebut, akan tetap masuk ke halaman yang sama yang sudah Panda perbaiki.

5. Penargetan Perangkat dan Geolokasi

Marketer juga kerap melakukan pengalihan untuk tujuan penargetan, yaitu penargetan perangkat dan gelokasi. Penargetan perangkat berguna untuk menangani klien dari perangkat seluler.

Dalam hal ini, ada dua pendekatan untuk melayani pengguna seluler, yaitu membuat web responsif atau mengalihkan ke versi situs web seluler. Untuk opsi kedua, pengguna dari perangkat seluler akan diteruskan secara otomatis ke konten seluler yang sesuai.

Sedangkan dalam penargetan geo, tujuannya adalah menawarkan konten yang dilokalkan dan secara otomatis meneruskan pengunjung ke versi lokal dari URL yang diminta. Pengalihan ini biasanya bermanfaat untuk situs web yang menargetkan audiens di lebih dari satu lokasi atau bahasa.

6. Memanipulasi Pengunjung

Khusus poin ini berkaitan dengan serangan phishing yang sering dilakukan oknum hacker. Mereka akan membuat pengunjung bingung dengan menjebak calon korban mereka untuk mengunjungi situs palsu yang mirip.

Atau bisa juga, pengalihan akan membawa ke situs yang mengirim serangan dengan cara lain. Misalnya saja, pengalihan akan membawa pengunjung ke situs yang mengelabui mereka untuk mengunduh aplikasi atau software yang berisi malware.

Jenis- jenis Redirect Website

Perbedaan redirect 301 dan redirect 302

Setelah mengetahui apa itu redirect dan juga manfaatnya, selanjutnya kita akan mengenali jenis- jenis redirect yang umum dilakukan.

1. Redirect 301

Redirect 301 merupakan jenis redirect secara permanen. Pengalihan ini bertujuan untuk memindahkan atau mengalihkan isi dari situs lama ke situs web baru secara permanen untuk sebagian atau seluruh kontennya.

Mesin pencari biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengenali situs baru yang dituju, tergantung dari proses yang kita lakukan.

Redirect 301 biasanya kita lakukan dalam kondisi berikut :

  • Mengganti nama domain website ke domain baru
  • Ingin membuat URL situs perusahaan terpusat, meskipun mempunyai beberapa website berbeda.
  • Ketika mempunyai dua halaman web yang sama dan ingin mengoptimalkan salah satu website.

Selain itu, pengalihan juga bisa kita terapkan pada versi domain www ke non www untuk memaksimalkan pengalaman pengguna.

2. Redirect 302 Temporary

Sesuai namanya, jenis redirect ini bersifat sementara. Artinya, Anda melakukan pengalihan untuk beberapa saat dan masih ada niat untuk kembali ke URL lawas.

Dalam redirect ini, search engine bukan mengindeks URL tujuan seperti di pengalihan 301, melainkan tetap URL asli. Jadi, link inbound dalam optimasi SEO akan tetap menjadi milik halaman asli.

Pengalihan ini bisa kita lakukan dalam kondisi website kita sebagai berikut :

  • Website menjalankan maintenance atau perbaikan sementara
  • Saat kita menginginkan URL asli tetap terindeks, namun sementara waktu visitor mengunjungi halaman lain.

Kesimpulan

Redirect atau pengalihan adalah teknik untuk mengarahkan pengunjung website ke halaman yang berbeda dari tujuan awal. Saat kita memasukkan alamat sebuah website ke bar browser dan URL berubah setelah laman tampil, inilah redirection.

Pengalihan ini sendiri bisa terjadi karena beberapa alasan. Mulai dari perubahan nama domain, perubahan URL halaman, atau karena halaman berpindah sementara.

Dengan berbagai alasan ini, webmaster nantinya akan melakukan setting redirect 301 atau 302 Temporary sesuai kebutuhan. Dengan begitu, pengunjung website yang masuk akan tetap terakomodir dengan baik.

Semoga artikel ini bermanfaat yaa… Terimakasih sudah membaca artikel Panda 🙂