Type to search

Bisnis Online

Catat, Ini Modus Penipuan Belanja Online Terhadap Penjual dan Pembeli

Mengetahui jenis- jenis modus penipuan belanja online

Belanja online itu menyenangkan sekaligus penuh tipu daya. Terbukti, setiap harinya selalu ada saja korban penipuan belanja online dimana- mana. Apakah teman Anda pernah menjadi korban penipuan belanja online ini?

Penipuan belanja online ini sendiri bisa terjadi karena beberapa hal. Yang pertama adalah penipu begitu sangat meyakinkan dan lihai. Dan yang kedua, calon korban tidak menyadari dirinya berhubungan dengan seorang penipu.

Mengenal Berbagai Modus Penipuan Belanja Online

Bicara soal modus penipuan dalam belanja online, korbannya bisa dari dua sisi. Yang pertama adalah penipuan terhadap penjual. Dan yang kedua terhadap pembeli.

Mungkin kita terheran- heran bagaimana bisa seorang penjual menjadi korban penipuan, karena di banyak kasus, korban penipuan belanja online adalah pembeli. Namun kenyataanya, modus penipuan terhadap penjual sendiri mulai marak sejak tahun 2018 an, dan masih menjerat banyak korban hingga kini.

Oleh sebab itu, berjualan atau pun membeli produk secara online, kita wajib mengedepankan kehati- hatian. Hati- hati, melek teknologi, dan teliti, ini lah kunci kita terhindar dari modus si penipu.

Modus Penipuan Belanja Online yang Menjerat Pembeli

1.Situs Belanja Online Palsu melalui Email Phising

Belanja di marketplace aman? Secara umum iya, selama Anda tidak menjadi korban dari phising.

Phising adalah metode untuk melakukan penipuan dengan cara mengelabui target, dengan tujuan untuk mengambil alih akun milih target. Phising ini biasanya dilakukan dengan mengirim email atau chat berisi link jebakan, yang seolah- olah mengarah ke toko online terkenal, padahal situs itu adalah situs palsu.

Setelah korban mengklik link, memasukkan username dan password, maka di saat itulah si penipu mulai melancarkan aksinya. Dalam kasus ini, penipu mengincar identitas dan informasi pembayaran korban.

Dalam situs palsu ini, penipun akan menggiring korban melakukan transaksi hingga selesai melakukan pembayaran. Jika akun Anda mempunyai saldo yang besar, jangan kaget jika salod tiba- tiba ludes. Ini karena si penipu sudah mempunyai akses login Anda dan tinggal melakukan beberapa klik untuk menarik saldo Anda ke akun atau rekeningnya.

Artikel Menarik Lainnya :   Garansi Anti Rugi, Bisnis Sistem Dropship Bareng Dropshipaja.com

2. Pencurian Data Transaksi Belanja

Ini biasanya adalah modus penipuan belanja online berskala besar. Pemicunya adalah kerentanan keamanan dari situs belanja yang kurang memadai, seperti enkripsi dan anti hacking.

Dalam kasus ini, pelanggan mungkin tidak pernah menyadari bahwa datanya sudah dicuri, sebelum ada penyalahggunaan terhadap rekening kartu debit atau kartu kreditnya. Semua terlihat baik- baik saja karena situs belanja online yang pengguna kunjungi pun terlihat legal dan meyakinkan.

Masih ingat kasus yang menimpa marketplace besar di Indonesia? Kasus tersebut mengungkap adanya pencurian data pelanggan secara besar- besar.

3. Tidak Menerima Pesanan

Modus penipuan yang satu ini sering terjadi. Setelah melakukan pembayaran transaksi, penjual kemudian memberikan nomer resi palsu seolah- olah sudah mengirimkan barang.

Namun selang berapa lama, pembeli tidak pernah menerima barang tersebut. Tracking resi pun tidak sesuai dengan data si pemesan. Saat pembeli menghubungi penjual, ia menghindar dan hilang entah kemana.

Di kasus yang lain, penjual biasanya menawarkan produk mahal dengan iming- iming harga cuci Gudang. Setelah transaksi berhasil, penjual langsung memblokir pembeli dan berusaha kabur.

Untuk mencegah hal ini, biasakan lah untuk mencari tahu apakah toko online yang Anda kunjungi benar- benar terpercaya atau abal- abal. Termasuk jika Anda membeli melalui platform media sosial.

Luangkan waktu untuk mencari tahu apakah toko tersebut bermasalah atau nomer rekeningnya pernah mendapatkan laporan penipuan.

4. Barang Palsu atau Tidak Dikirim Sesuai Pesanan

Tidak sedikit toko online yang mengaku menjual barang ORI berkualitas dengan harga murah. Sayangnya, setelah transaksi berhasil, pembeli menerima barang palsu dan tidak sesuai dengan yang tertera di iklan dan deskripsi produk.

Atau bisa juga, barang yang pembeli terima, sangat berbeda jauh dengan foto dan deskripsi.

Untuk menghindari hal ini, cobalah untuk berbelanja di official store untuk mendapatkan produk original. Dan sama seperti solusi dari poin sebelumnya, luangkan waktu untuk mencari tahu kredibilitas toko dan cek rekening jika Anda masih tidak yakin.

Artikel Menarik Lainnya :   Mengapa SEO Penting untuk Sebuah Bisnis?

5. Tambahan Biaya Tersembunyi

Dalam modus ini, pembeli melakukan transaksi dan sudah melakukan pembayaran. Namun setelah pembayaran berhasil, ternyata penjual menyatakan jika harga tercantum di situs web tidak valid dan sudah mengalami kenaikan.

Akibatnya, Anda mendapatkan tagihan baru untuk membayar kekurangan transaksi sebelumnya. Karena sudah melakukan pembayaran di awal dan tidak bisa diproses refund, mau tak mau, Anda harus mengeluarkan biaya tambahan agar transaksi Anda dapat diproses oleh penjual.

Untuk kasus seperti ini sebenarnya masih dalam perdebatan. Ada banyak penjual yang meng-klaim hal ini faktor ketidaksengajaan dan nominal tambahan tidak begitu besar. Namun ada juga yang memang menggunakan modus ini untuk iming- iming menarik pembeli dulu (karena harga terkesan murah), lalu menarik tambahan biaya yang lumayan.

Yang pasti, dari sisi pembeli ini sangat merugikan.

6. Jual Murah untuk Memancing Pembelian Jumlah Banyak, Namun yang Dikirim Kurang

Tidak sedikit penjual yang rela banting harga di marketplace. Tujuannya tentu saja agar produk jualan laris manis di marketplace.

Harga yang murah berpotensi membuat toko muncul di posisi teratas dan memancing pembeli untuk bertransaksi. Sayangnya, modus jual murah ini sering merugikan pembeli saat mereka melakukan transaksi jumlah banyak.

Sebagai contoh, Anda bisa melihat banyak transaksi di marketplace yang menuai komplain lantaran barang yang seller kirimikan tidak sebanyak jumlah yang dipesan. Kasusnya bukan sekali dua kali, tapi berkali- kali.

Belum bisa dipastikan apakah oknum penjual ini melakukan trik ini untuk mengcover margin minim yang mereka lakukan karena menjual murah. Namun yang pasti, hal ini tentu merugikan pembeli.

7. Misleading Informasi & Gambar Produk

Misalnya saja, ada penjual yang memjual sarung bantal lucu. Di gambar tersebut tidak terlihat kalau yang dijual adalah sarungnya, karena yang terlihat adalah bantal lucu. Deskripsi produk pun tidak jelas, hanya menginformasikan ukuran, dan jenis bahan. Karena harga relatif murah, buyer pun membeli produk tersebut karena kebetulan sedang mencari bantal yang lucu.

Saat barang datang, ternyata, bukan bantal, melainkan hanya sarungnya saja. Mengecewakan, ya?

Lain halnya jika penjual sudah menginformasikan dengan jelas di judul dan deskripsi produk bahwa yang mereka jual bukan bantalnya, melainkan sarung/ covernya. Jika seperti ini, tentu kesalahan ada pada pembeli yang tidak teliti membaca deskripsi produk.

Artikel Menarik Lainnya :   Teknik Inspiratif Membangun Bisnis Online dengan Joint Venture

8. Klaim Hasil Berlebihan, Namun Ternyata Zonk

Modus penipuan dengan iming- iming hasil yang fantastis, padahal hasilnya zonk ini sering terjadi pada jenis produk herbal, suplemen, dan obat- obatan.

Alih- alih memberikan informasi sejujur- jujurnya tentang khasiat produk, penjual memilih untuk memberikan klaim berlebihan dan jaminan hasil terlihat dalam waktu singkat.

Dengan iming- iming palsu ini, pembeli yang tergoda akhirnya akan merasa telah dirugikan saat menyadari hasil yang diharapkan tak kunjung terjadi.

Modus Penipuan Belanja Online yang Menjerat Penjual

Selain menjerat pembeli, penipuan belanja online juga sering menimpa penjual. Berikut ini beberapa modusnya :

1.COD (Cash-on-Delivery) Palsu

Kasus ini biasanya mengincar barang dengan harga relatif mahal. Calon pembeli mengajak seller untuk COD karena ingin melihat barang secara fisik. Dari komunikasi sebelumnya memang si calon pembeli ini sudah berusaha terlihat meyakinkan agar penjual juga mantap melakukan COD.

Namun, saat proses COD berlangsung, ternyata ini adalah jebakan pembeli untuk melakukan perampokan atau tindak kejahatan lainnya pada penjual. Kerugian material dan fisik bisa menjadi ancaman untuk si penjual.

COD sendiri sebenarnya metode jual-beli yang sangat umum dilakukan. Namun jika akan melakukan ini, berhati- hatilah. Lakukan di tempat yang ramai dan tidak memungkinkan terjadi tindak kejahatan. Jika ragu dengan keamanan proses jual beli, cobalah untuk mengarahkan proses transaksi lewat rekening bersama seperti marketplace.

2. Modus e-Cash/ eMoney

Modus e-Cash ini juga paling sering mengelabui penjual online. Seolah meyakinkan, customer abal- abal ini mengirimkan bukti transfer pembelian barang yang sudah disepakati dengan seller. Namun, saat seller melakukan pengecekan ke rekening, uang senilai bukti transfer tersebut tak kunjung masuk.

Saat penjual mengatakan uang belum masuk, pembeli ngotot bahwa transfer sudah dilakukan. Ia pun menawarkan agar penjual menginput kode tertentu di ATM agar uang masuk. Padahal, step by step yang diinfokan pembeli ini adalah trik untuk memindahkan saldo penjual dari ATM nya ke akun e-Money/ e-Cash si pembeli abal- abal ini.

Solusinya, jangan pernah percaya transaksi sudah dilakukan jika uang tidak benar- benar masuk ke rekening Anda. Logikanya, sebagai penerima transfer, Anda hanya duduk manis menunggu uang masuk ke rekening Anda. Bukan repot- repot memasukkan kode yang ternyata ada adalah kode top up ke akun e-cash si penipu.

Point- point Pendukung Modus Penipuan Belanja Online

• Bagaimana kita yakin kalau si penjual atau pembeli ini ternyata penipu dan sedang mengintai kita sebagai mangsanya? Beberapa ciri- cirinya adalah sebagai berikut :
• Testimoni palsu yang berlebihan.
• Follower palsu dan komentar palsu.
• Menggunakan fitur komentar dibatasi untuk mencegah korban lain berkomentar negatif di akunnya.
• Ada dorongan untuk membuat kita terburu- buru (misalnya dalam kasus ecash tadi).

Semoga bermanfaat!

Tags:
Redva

I'm a Digital Marketing enthusiast. Bekerja di salah satu digital marketing terbesar di Jawa Tengah sebagai Digital Strategist dan telah menulis untuk blog dengan niche teknologi & digital marketing lebih dari 4 tahun.

  • 1

You Might also Like

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x